Pastikan Bekerja Dari Rumah,  Guru dan Pegawai  MTsN 6 Kulon Progo Lakukan Sharelock

Kulon Progo (MTsN6KP) – Menindaklanjuti Surat Kanwil Kemenag DIY Nomor : B- 1073 /Kw.12.1/4/HM.01/03/2020, tentang Pengaturan Jadwal, Sistem Kerja ASN dan Sistem Pembelajaran di bawah Kanwil Kementerian Agama D.I. Yogyakarta dalam rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19, Guru dan Pegawai Tata Usaha MTsN 6 Kulon Progo mengganti presensi finger dengan sharelock.

Menurut Kepala MTsN 6 Kulon Progo, Imam Syamroni, S.Pd, hal tersebut dilakukan agar semaksimal mungkin bekerja di rumah dalam menyelesaikan tugas dan fungsi masing-masing. Dengan demikian keberadaannya dapat terpantau langsung oleh Kepala Madrasah selaku atasan langsung. Hal ini sesuai ketentuan bahwa selama jam dinas, harus tetap berada di rumah/tempat tinggal dan harus dalam keadaan dapat dihubungi.

“Selama dalam tenggang waktu pelaksanaan bekerja di rumah, guru/pegawai tidak diizinkan bepergian keluar daerah dan/atau kegiatan mudik dalam rangka hari raya Idul Fitri 1441 H ataupun kegiatan mudik lainnya,” tegas Imam.

Petugas khusus yang mengelola kiriman sharelock, Tumija atau yang akrab disapa mas Jajak menyampaikankan bahwa untuk kiriman sharelock pengganti finger dari guru dan pegawai yang berjumlah 34 orang jadwal pengirimannya diatur untuk Senin sampai Kamis pengiriman sharelock pagi dilakukan antara jam 06.30 – 07.00, siang antara jam 14.30 – 15.00. Untuk Jum’at, pagi tetap, namun siang jam 11.00 – 11.30, sedangkan Sabtu, pagi juga tetap namun siang jam 14.00 – 14.30.

Terkait dengan perpanjangan waktu pembelajaran jarak jauh bagi siswa (1-21/4/2020) sebagai bukti pendukung setiap harinya guru diwajibkan membuat Laporan Kinerja Harian dan melakukan penilaian atas lembar kerja siswa yang telah diberikan.

Baik rekapan sharelock maupun laporan kinerja harian dilaporkan kepada Kepala Kankemenag  Kabupaten Kulon Progo melalui Kasi Dikmad setia Senin.

Imam Syamroni menambahkan, pembelajaran jarak jauh dengan online/daring tetap diteruskan, namun dia meminta agar  materi/tugas yang diberikan tidak memberatkan siswa dan bersifat konstektual.  “Siswa memiliki kondisi berbeda-beda baik latar belakang keluarga secara sosial ekonominya, maka saya minta agar tugas jangan terlalu berat, bahkan bisa bertemakan COVID-19 sehingga anak didik memahami bagaimana pencegahannya dan disesuaikan mapel masing-masing,”imbuhnya. (tan/abi)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.