Guru MTsN 6 Kulon Progo Juara Menulis Macapat se-DIY

Kulon Progo (MTsN6KP) – Guru Seni Budaya MTsN 6 Kulon Progo, Drs. Sutanto berhasil meraih Juara I Lomba Menulis Macapat Tingkat Guru SMP/ MTs se-DIY setelah meraih poin tertinggi 520, mengungguli juara II Sugiyarti, M.Pd (SMP Muh.1 Seyegan) poin 518 dan Suprihatin, S.Pd (SMPN 1 Sewon) dengan poin 516 sebagai juara III. Sedangkan juara IV-V diraih Drs. Padi (SMPN 1 Tempel) poin 514 dan MM. Sri Haryanti, S.S (SMPN 3 Bantul) poin 512. Kelimanya berhak atas trophy tetap dan piagam penghargaan yang diberikan Koordinator Jumat Legen Balai Bahasa, Mulyanto, M. Hum, di Balai Bahasa Yogyakarta, Rabu (18/11/2020) siang.

Koordinator Pembinaan Bahasa BBY, Ratun Untoro, M. Hum menjelaskan bahwa tahap pertama lomba dilakukan secara daring. Total ada 83 peserta yang mengirim naskah Mocopat bertema “Pageblug” melalui googleform sampai 5 november. Setelah itu dipilih 10 naskah terbaik, tahap kedua dilakukan wawancara di Balai Bahasa Yogyakarta, Rabu (18/11/2020) oleh Dewan Yuri yang terdiri Praktisi Mocopat KMT Projo Suwasono, Moegi Santosa, dan Guru SMKN 4 Yogyakarta Sinar Indrakrisnawan, S.Pd.
“Materi wawancara meliputi : penjelasan isi cakepan macapat yang dibuat, ide kreatif pembuatan cakepan, dan motivasi mengikuti lomba,” terang Ratun.

Projo Suwasono menerangkan, kelebihan Sutanto dibanding peserta lain adalah terpenuhinya 3M (Memakai Masker, Mencuci tangan, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan) dalam cakepan Macapat yang dibuatnya.

Ketika ditanya dewan yuri mengapa memilih Pocung dan Gambuh dalam pembuatan naskah lomba, hal itu disebabkan karena mengejar target dengan kegiatan lain.
“Terus terang, saya hanya memilih tembang yang gatra/ barisnya sedikit. Pocung hanya empat baris, sedangkan Gambuh lima baris. Waktu itu bersamaan pembuatan buku antologi dan kegiatan di madrasah yang padat, sehingga lebih aman memilih dua tembang tersebut. Nantinya dua tembang tersebut juga mudah dibawakan siswa saya di madrasah,” ujar Sutanto.

Guru yang hobi catur tersebut menambahkan, motivasinya ikut lomba ada 3 yaitu : melestarikan Bahasa Jawa, turut mengobarkan semangat literasi, dan meneguhkan eksistensi madrasah. Saat ini banyak guru yang tidak percaya diri ketika berbahasa Jawa, baik saat berada di lingkungan rumah maupun sekolah/ madrasah. Dengan ikut lomba, dirinya berharap semakin banyak yang mencintai bahasa peninggalan leluhur.
Dirinya juga bersemangat ikut lomba karena dalam brosur dijanjikan bahwa semua naskah yang masuk akan dibukukan. Padahal antologi macapat dia belum pernah membuat.

Masih adanya masyarakat atau lembaga yang kurang familiar dengan madrasah, mendorongnya ikut even ini. Dirinya berharap dengan keikutsertaan dalam even ini madrasah semakin dikenal luas. (tan/abi).
Tetap sehat dan semangat
#LawanCovid-19

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.