Penulis: M. Syarif Hidayatullah

Mahasiswa UIN SAIZU Purwokerto

PPL di Kankemenag Kulon Progo

Kementerian Kesehatan telah melakukan pelacakan asal muasal masuknya virus Covid-19 varian Omicron ke Indonesia dengan kasus pertama diduga berasal dari Warga Negara Indonesia yang tiba dari Nigeria pada (27/1/2021). Setelah itu, pada Kamis (16/12/2021) Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengumumkan temuan kasus varian Omicron terdeteksi pada seorang petugas kebersihan berinisial N yang berada di RSDC Wisma Atlet Kemayoan Jakarta. Dikutip dari Kompas.com

N mengaku tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri, sehingga dapat disimpulkan bahwa N tertular dari WNI yang datang dari luar negeri dan melakukan karantina di Wisma Atlet.

Kurang lebih ada sekitar 165 atlet yang melakukan karantina di Wisma Atlet antara 24 November hingga 3 desember 2021 yang telah dilakukan tracing dengan hasil satu orang TF, probable dengan kemungkinan besar tertular Omicron.

Sejumlah kasus menunjukkan bahwa pasien yang terinfeksi virus Covid-19 varian Omicron mengalami tak biasa yang muncul saat buang air besar. Sejak pertama kali ditemukan, kasus Omicron memang tidak memicu gejala Covid-19 serupa seperti infeksi sebelumnya. Sementara mayoritas pasien Covid-19 Omicron hanya mengeluhkan gejala seperti influenza atau flu biasa. Meski gejala Covid-19 Omicron terbilang ringan, angka penularan yang tinggi memicu kekhawatiran para ahli.

Menurut CDC (Centers for Disease Control) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, jika pasien mengalami gejala Covid-19 diare, ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang terpapar Covid-19 Omicron. Orang dengan sistem kekebalan yang lemah adalah yang paling mungkin mengalami diare dan gejala gastrointestinal lainnya, demikian laporan NBC Chicago.

Umumnya keluhan tersebut diikuti dengan kelelahan, masalah pernapasan, nyeri otot, dan tubuh serta sakit kepala atau sakit tenggorokan. Awal bulan ini, tanda-tanda paling umum dari gejala Covid-19 Omicron terungkap setelah pasien mencatat sederet keluhan mereka dalam Studi ZOE Covid. Selain itu, gejala mual dan sakit maag dialami 18% pasien, sementara diare memengaruhi 15% dari mereka yang pulih dari Covid-19. Gejala yang kurang umum dikeluhkan pasien Covid-19 Omicron adalah kembung dialami 14% pasien dan gejala sendawa yang dialami 10% pasien. Dikutip dari CNBC Indonesia.

Sejauh ini, laporan anekdotal oleh dokter yang telah merawat pasien Covid-19 Afrika Selatan menyebut infeksi akibat varian Omicron menimbulkan gejala relatif ringan, seperti batuk kering, demam, dan keringat malam. Pasalnya, ilmuwan lokal hanya menghasilkan 87 urutan varian Omicron sejauh ini. Di lain sisi, Omicron diperkirakan akan memicu gelombang keempat.

Untuk pencegahannya sendiri dikutip dari kompas.com seorang ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS), Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, langkah pencegahan varian Omicron maupun varian Delta atau varian virus corona Covid-19 sebelumnya sama saja.

Tonang menyampaikan, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan Pemerintah adalah dengan memastikan pelaksanaan penerapan protokol kesehatan. Kemudian, pemerintah membantu memisahkan sumber-sumber penularan dengan isolasi, hingga merawat pasien yang mengalami gejala. Selanjutnya, pemerintah memberi daya proteksi berupa vaksinasi lanjut dia. Menurut Tonang, dua kewajiban tersebut yang harus dilakukan oleh pemerintah, karena tidak mungkin dilakukan masyarakat biasa. Dikutip dari Kompas.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.