Kulon Progo (Kankemenag) – Sesorang dalam beragama harus secara moderat. Karena moderasi beragama menjadi pondasi kerukunan umat. Kepala Kankemenag Kulon Progo, H.M. Wahib Jamil, S.Ag. M.Pd. menyampaikan hal itu pada Sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang berlangsung di Ruang Rapat Sermo Pemda setempat, Kamis (21/4/2022) pagi.

“Moderasi beragama menjadi pondasi kerukunan umat. Sehingga dalam beragama kita harus bersikap moderat. Moderasi beragama bukanlah mencampuradukkan yang hak dan bathil. Tetapi cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama. Moderasi beragama itu tidak mengebiri, bahwa beragama tidak harus satu pemahaman, tetapi sangat terbuka adanya perbedaan. Perbedaan pemahaman, keyakinan, dan lain-lain. Silahkan mengikuti aliran tertentu untuk yang fanatik, tetapi harus tetap menjadi yang moderat,” ujarnya.

“Tidaklah boleh ada klaim kebenaran akan tafsir suatu agama. Padahal ada kebenaran juga dalam sisi yang lain. Dalam kehidupan walaupun berbeda organisasi tetapi pasti suatu saat akan ada kesamaan. Dalam suatu pekerjaan tentu perlu adanya penyamaan persepsi atau langkah yang akan ditempuh. Penyuluh agama silakan sesuai aliran masing-masing, tetapi kalau dalam pekerjaan pasti harus ada kesamaan,” tegas Kakan.

“Saat ini ada 3 tantangan besar yang dihadapi oleh umat beragama di Indonesia termasuk di Kulon Progo. Ketiga tantangan tersebut yakni: Pertama, Berkembangnya cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrim), serta mengesampingkan martabat kemanusiaan. Yang Kedua, Berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak atas fungsi agama serta pengaruh kepentingan ekonomi dan politik berpotensi memicu konflik. Ketiga, Berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai NKRI,” imbuhnya.

“Untuk itulah moderasi beragama menjadi sangat penting, dengan indikator adanya komitmen kebangsaan (aman NKRI), sikap toleransi, anti kekerasan baik verbal maupun non verbal, dan menghormati budaya dan tradisi. Sehingga tidak dibenarkan membenturkan budaya dan tradisi, agama dan budaya, serta agama dan negara,” pungkas Jamil.

Selain Kepala Kankemenag Kulon Progo, hadir sebagai narasumber dalam sosialisasi tersebut antara lain Kapolres, Kajari, Ketua DPRD, Kepala Bakesbangpol, dan Ketua FKUB. (abi).

Tetap sehat dan semangat

#LawanCovid-19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.