Kulon Progo (Kankemenag) – Salah satu tantangan dalam kehidupan manusia adalah adanya pemahaman yang ekstrim dalam beragama. Sehingga sering kali orang membenturkan antara agama dan budaya. Sehingga mendialogkan agama dan budaya diharapkan dapat menjadi wujud dari moderasi beragama. Kepala Kankemenag Kulon Progo, H.M. Wahib Jamil, S.Ag. M.Pd. menyampaikan hal itu di sela-sela menghadiri Syawalan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) yang berlangsung di Taman Budaya Kulon Progo (TBK), Pengasih, Selasa (10/5/2022) siang.

“Mendialogkan agama dan budaya menjadi sangat penting untuk mewujudkan moderasi beragama. Dengan dialog tersebut diharapkan tidak ada lagi benturan antara agama dan budaya. Karena sesungguhnya beragama adalah bagian dari berbudaya,” ujarnya.

“Dengan dialog tersebut akan terwujud moderasi beragama, dengan indikator adanya komitmen kebangsaan (aman NKRI), sikap toleransi, anti kekerasan baik verbal maupun nonverbal, serta menghormati budaya dan tradisi. Sehingga tidak dibenarkan membenturkan budaya dan tradisi, agama dan budaya, serta agama dan negara,” tutur Jamil.

“Agama diturunkan untuk menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu, marilah kita sebagai manusia beriman untuk kembali ke agama yang benar. Agama untuk memberikan inspirasi, sehingga akhlak menjadi lebih baik. Diutusnya Rasulullah Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Agama juga diturunkan untuk kedamaian, ketenangan, dan ketentraman di dunia. Agama juga sebagai rahmat sekalian alam/Rahmatan Lil ‘Alamiin,” lanjutnya.

“Sehingga dengan pemahaman agama yang moderat kehidupan akan berimbang. Agama juga mengajarkan seimbang antara dunia dan akhirat. Harapannya agama dan budaya akan terus berkembang beriringan tanpa ada celah penyebab perpecahan,” pungkas Kakan. (abi).
Tetap sehat dan semangat
#LawanCovid-19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.