Kulon Progo (Kua Sentolo) – Kepala KUA Kapanewon Sentolo Muhammad Sururudin, laksanakan tugas khutbah di Masjid Ainun Jariyah Klumutan Srikayangan, Sentolo, Jumat siang (13/05/2022).

Dalam khutbahnya mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa setelah sebulan penuh di bulan Romadhon telah dididik, diuji dan dilatih melalui mekanisme yang Allah SWT berikan melalui kewajiban ibadah puasa. Maka dibulan syawal dan bulan berikutnya saatnya menjadi insan yang bertakwa, hamba yang bersyukur dan hamba yang cerdas.

Menurutnya, dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa yang disebutkan dalam surah Al-baqarah 183-187, disebutkan tiga tujuan utama yang ingin dicapai melalui ibadah puasa, yaitu la’allakum Tattaqun, La’allakum Tasykurun, dan La’allahum Yarsyudun; agar  menjadi orang yang bertakwa, agar menjadi orang-orang yang bersyukur, agar menjadi orang yang cerdas.

Taqwa merupakan puncak ibadah hati dan menjadi sumber lahirnya berbagai akhlak mulia.Taqwa meliputi rasa takut kepada Allah, keyakinan kepada hari akhirat, keimanan kepada hal-hal gaib, yang melahirkan disiplin dalam ibadah, tanggung jawab dalam tugas, totalitas dalam aktivitas, semangat untuk berbagi kepada sesama, serta berhati-hati dalam menjalani hidup agar tidak terjatuh dalam dosa.

Rasa Taqwa adalah bekal untuk menjalani kehidupan, hidup tanpa dilandasi ketaqwaan ibarat hidup yang terasa kosong, hampa, tidak memiliki makna dan arti.Setinggi apa pun jabatan sosial, sebanyak apapun harta kekayaan, seluas apapun pengaruh dan kekuasaan, tanpa rasa taqwa semua hanya akan menambah derita hidup, membuat hati keruh dan menjadikan pikiran kusut.Namun ketika ada ketaqwaan, maka semua potensi yang ada akan membawa kebaikan dan keberkahan.

Kedua,  Agar menjadi hamba yang bersyukur.

Kesyukuran merupakan jaminan dari bertambahnya nikmat.Semakin kita bersyukur, maka nikmat akan datang dengan deras dan melimpah. Sementara ketika kita tidak ridha dan tidak menerima nikmat yang ada, maka nikmat itu akan pergi dan menjadi petaka.

Kesyukuran ini kemudian diwujudkan dengan membagi nikmat kepada mereka yang memerlukan. Ketika kita berbagi kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada kita sendiri sebelum sampai kepada orang lain. “Kita bisa menyaksikan sendiri, banyak anak-anak yang tiba-tiba menjadi yatim piatu atau ditinggal mati oleh kedua orangtuanya akibat sakit,pandemi covid dan lainnya.Siapa yang akan peduli kepada anak-anak ini ? Apakah kita tega membiarkan mereka hidup terlantar dan terlunta-lunta, tutur Sururudin.

Ketiga, Agar menjadi orang yang cerdas.

Orang-orang yang cerdas yakni mereka yang mampu mengenali bahwa yang benar adalah benar lalu mereka mengikutinya, dan mampu memahami bahwa yang batil adalah batil dan mereka mampu menghindarinya.

Mereka mampu membedakan mana milik pribadi, mana milik rakyat, mana harta yang halal, mana harta yang haram.Mereka tidak menggunakan apa yang bukan miliknya dengan sembarangan.Mereka tidak menyalahgunakan kepercayaan orang lain untuk kepentingan pribadi dan golongan atau hal-hal yang tidak bermanfaat.Dalam hati mereka masih ada rasa taut melakukan pelanggaran dan dosa, pungkasnya .(Ant/dpj)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.