Garis-garis Doa Ibu

Oleh: Salma Widya Dani
Siswa MTsN 5 Kulon Progo
Di keningmu, Ibu, ada garis-garis doa yang dipahat waktu,
Setiap guratnya menyimpan kisah tentang lelah yang kau sembunyikan.
Kau adalah fajar yang tetap terjaga sebelum matahari menyentuh jendela,
Memastikan dunia anak-anakmu hangat, meski di luar badai sedang menggila.
Dahulu, tanganku yang mungil menggenggam erat jemarimu yang kokoh,
Mencari perlindungan dari bayang-bayang takut yang tak bernama.
Kini, saat langkahku mulai jauh dan dunia terasa begitu riuh,
Hanya dalam suaramu, aku menemukan kembali jalan pulang ke rumah.
Ibu, kau adalah perpustakaan tanpa batas tentang kasih sayang,
Halaman-halamannya berisi sabar yang tak pernah habis dibaca.
Kau tak pernah meminta mahkota, meski hatimu adalah kerajaan cinta,
Kau tak pernah meminta pelita, karena kau sendiri adalah cahaya.
Berapa banyak air mata yang kau telan dalam diam?
Hanya agar senyumku tetap mekar di tengah kelelahanmu.
Terima kasih untuk setiap suap nasi yang menjadi kekuatan,
Terima kasih untuk setiap doa yang menjadi perisai di malam-malamku.



Menarik dan menginspirasi