Lawan “Penjajah Tanpa Wajah”: Penyuluh KUA Pengasih dan PKH Perkuat Benteng Keluarga dari Cengkeraman Judi Online dan Edukasi Pubertas Anak

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Kemerdekaan sejatinya bukan sekadar lepas dari penjajahan fisik, melainkan juga bebas dari ancaman modern yang merusak tatanan keluarga. Semangat inilah yang melandasi kegiatan edukasi dan sosialisasi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Luazizah, S.H.I., bersinergi dengan Pendamping PKH, Patmasiwi Untari, di kediaman Ibu Triningsih, RT 34 Kalipetir Lor, Margosari, Pengasih, pada Kamis (13/8/2026).

Di hadapan para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH, Luazizah menyampaikan narasi mendalam yang menggugah kesadaran para peserta terkait maraknya judi daring. “Ibu-Bapak sekalian, merdeka 1945 artinya kita bebas dari penjajah asing. Namun di tahun ini, ada ‘penjajah tanpa wajah’ yang masuk ke HP kita, merampok uang belanja, dan menghancurkan masa depan anak. Penjajah itu bernama Judi Online,” tegas Luazizah.

Dalam pemaparannya, Luazizah membedah judi (Al-Maysir) dari perspektif Islam berdasarkan QS. Al-Ma’idah ayat 90. Ia menegaskan status hukum judi yang rijsun (keji/kotor) serta dampaknya yang merusak keberkahan keluarga.

Judi online terbukti memicu rantai kemiskinan baru akibat dana PKH yang salah guna, jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal, meningkatnya angka KDRT dan perceraian, hingga sanksi hukum pidana UU ITE serta risiko pencabutan bantuan sosial. Untuk membentengi hal tersebut, para ibu dibekali langkah praktis yakni Satu; Transparansi keuangan rumah tangga, pengawasan gadget suami dan anak, serta pengalokasian langsung dana PKH untuk pangan dan pendidikan begitu cair.

Melengkapi materi keagamaan, Pendamping PKH Patmasiwi Untari memberikan pembekalan terkait pola pengasuhan anak, khususnya dalam menghadapi fase pubertas. Patmasiwi menekankan pentingnya peran orang tua sebagai pendamping utama saat anak mengalami perubahan fisik, emosional, dan biologis.

“Pubertas adalah masa transisi yang krusial. Orang tua harus hadir sebagai tempat bertanya yang aman dan nyaman bagi anak, bukan justru menghakimi. Komunikasi yang terbuka mengenai kesehatan reproduksi dan batasan pergaulan sangat penting agar anak terhindar dari pergaulan bebas serta bahaya informasi salah yang mereka akses dari internet,” jelas Siwi.

Kepala KUA Kecamatan Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi holistik antara penyuluh agama dan pendamping sosial ini.
“Judi online dan kurangnya pemahaman pengasuhan anak adalah ancaman nyata bagi benteng keluarga. Sinergi Penyuluh KUA Pengasih dan pendamping PKH ini sangat tepat karena menggabungkan pendekatan spiritual, ekonomi, dan psikologi keluarga. Bantuan sosial bertujuan meningkatkan kesejahteraan, sehingga edukasi keagamaan serta pendampingan pubertas anak ini akan memastikan dana sosial tepat sasaran sekaligus melahirkan generasi penerus yang berakhlaq dan berdaya saing,” ujar Rangga.(lua/mel)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *