Kepala MI Ma’arif Bojong Tekankan Pendidikan Karakter dan Tanggung Jawab

Kulon Progo (MIMA Bojong) — Pertemuan Mujahadah bersama wali murid MI Ma’arif Bojong pada Rabu (12/8/2026) malam menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran orang tua. Yakni tentang pentingnya pendidikan karakter, pembiasaan ibadah, dan pendampingan agama bagi anak.

Kepala MI Ma’arif Bojong, Mahbub Misbahudin menyampaikan bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab madrasah. Orang tua memiliki peran yang sangat penting. Karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.

Kepala Madrasah mengingatkan para wali murid pada sabda Rasulullah. “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Dawud).

Hadis tersebut menurutnya, menunjukkan bahwa Islam telah memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak sejak usia dini. Pendidikan tidak dilakukan secara tiba-tiba. Tetapi melalui proses pembiasaan, pendampingan, keteladanan, pengawasan, dan penanaman tanggung jawab secara bertahap.

“Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan anak itu ada tahapannya. Sejak usia dini anak diperintah dan dibiasakan untuk salat. Ketika semakin besar, tanggung jawabnya semakin dikuatkan. Bahkan dalam hal adab dan penjagaan diri, Rasulullah SAW memberikan perhatian sampai pada persoalan tempat tidur anak,” jelasnya.

Menurut Kepala Madrasah, pesan tersebut sangat relevan dengan pendidikan karakter pada masa sekarang. Anak tidak cukup hanya diberi pengetahuan tentang agama. Tetapi perlu dibiasakan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Termasuk ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dan guru hendaknya tidak berhenti pada memarahi atau menghukum. Anak perlu diajak memahami mengapa perbuatan itu salah, apa dampaknya terhadap orang lain, serta bagaimana cara memperbaikinya.

“Misalnya ketika anak mengambil barang milik temannya tanpa izin. Jangan hanya mengatakan, ‘Jangan mengambil!’ Tetapi ajak anak berpikir: bagaimana kalau barangmu yang diambil orang lain? Bagaimana perasaanmu? Dari situ kita mengajarkan kejujuran, amanah, empati, dan menghargai hak orang lain,” tuturnya.

Pendidikan karakter, lanjutnya, akan lebih kuat apabila ada keselarasan antara madrasah dan keluarga. Apa yang diajarkan guru di madrasah perlu dilanjutkan oleh orang tua di rumah. “Jangan sampai guru berjuang sendirian. Madrasah mengajarkan anak untuk salat, mengaji, jujur, disiplin, dan berakhlak baik, maka orang tua perlu membersamai dan memberikan teladan di rumah,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat yang didengarnya. Tetapi juga dari apa yang dilihatnya setiap hari. Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya menuntut anak menjadi baik. Tetapi juga menghadirkan keteladanan dalam keluarga.

Pertemuan mujahadah tersebut akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan spiritual berupa zikir dan doa bersama. Tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi orang tua untuk kembali menyadari besarnya amanah dalam mendidik anak.

Mendidik anak bukan sekadar membuat mereka pintar membaca dan berhitung. Lebih dari itu, orang tua dan madrasah memiliki amanah untuk membersamai mereka. Harapannya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang beriman, beribadah, berakhlak, jujur, amanah, disiplin, memiliki empati, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Melalui sinergi antara madrasah, orang tua, dan masyarakat, MI Ma’arif Bojong berkomitmen terus membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik. Tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak mulia sebagai bekal utama anak dalam menjalani kehidupannya. (bub/abi).

#KementerianSemuaAgama
#MakinDigitalMenjangkauUmat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *