Kreativitas Mading MAN 3 Kulon Progo, Wujud Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta
Kulon Progo (MAN 3 KP) – MAN 3 Kulon Progo melaksanakan program kokurikuler berupa Kreativitas Mading dan Kreasi Barang Bekas yang terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Kamis–Jumat (13–14/8/2026) di lingkungan madrasah. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa kelas X, XI, dan XII dengan mengangkat tiga tema, yaitu Kemerdekaan, Antikorupsi, dan Adiwiyata.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, sekaligus mengekspresikan nilai-nilai positif melalui karya. Setiap jenjang mendapatkan tema yang berbeda. Siswa kelas X mengangkat tema Kemerdekaan, kelas XI mengangkat tema Antikorupsi, sedangkan kelas XII mengangkat tema Adiwiyata.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung meriah. Siswa terlihat antusias dalam menentukan konsep, mengumpulkan bahan, menyusun desain, hingga menghias mading. Kreativitas masing-masing kelas tampak dari pemilihan ide, komposisi visual, penggunaan bahan, serta pesan yang disampaikan melalui karya.

Kegiatan Kreativitas Mading ini tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga dirancang untuk menanamkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta melalui lima aspek cinta, yaitu Cinta kepada Allah dan Rasul, Cinta Lingkungan, Cinta Ilmu, Cinta Diri Sendiri dan Sesama, serta Cinta Tanah Air.
Nilai Cinta kepada Allah S.W.T dan Rasul S.A.W diwujudkan melalui pembiasaan siswa untuk menghadirkan nilai-nilai keimanan, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kebaikan dalam proses maupun hasil karya. Siswa diajak memahami bahwa kreativitas, ilmu, dan kemampuan yang dimiliki merupakan anugerah Allah yang perlu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Nilai keteladanan Rasulullah, seperti kejujuran, amanah, dan kepedulian, juga menjadi landasan dalam bekerja sama dan menyelesaikan tugas.
Nilai Cinta Lingkungan menjadi bagian penting, terutama melalui tema Adiwiyata dan pemanfaatan bahan yang ramah lingkungan dalam pembuatan mading. Siswa didorong untuk memiliki kesadaran bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, siswa belajar mengurangi penggunaan bahan yang tidak perlu, memanfaatkan material secara bijak, serta menciptakan karya yang tetap memperhatikan aspek kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.
Nilai Cinta Ilmu dikembangkan melalui proses mencari informasi, mengolah gagasan, memilih materi, dan menyajikannya dalam bentuk visual yang menarik. Dalam tema Kemerdekaan, siswa menggali informasi mengenai sejarah dan nilai perjuangan bangsa. Pada tema Antikorupsi, siswa belajar memahami pentingnya integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Sementara itu, tema Adiwiyata mendorong siswa memperluas pengetahuan tentang kepedulian dan pelestarian lingkungan. Dengan demikian, mading menjadi media belajar yang kreatif dan kontekstual.
Nilai Cinta Diri Sendiri dan Sesama diwujudkan melalui kerja sama antarsiswa dalam merencanakan dan menyelesaikan mading. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan potensinya. Proses tersebut melatih sikap saling menghargai, menghormati perbedaan pendapat, bertanggung jawab terhadap tugas, serta membangun kepedulian terhadap teman. Tema Antikorupsi juga menjadi sarana menanamkan karakter jujur dan berintegritas sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Nilai Cinta Tanah Air secara khusus tercermin dalam mading bertema Kemerdekaan. Siswa diajak merefleksikan makna kemerdekaan, perjuangan para pahlawan, persatuan, serta tanggung jawab generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Melalui karya yang mereka hasilkan, siswa dapat mengekspresikan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia sekaligus menumbuhkan semangat untuk berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Kepala MAN 3 Kulon Progo, Nurhayanti, S.Pd., M.Sc., menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kreativitas siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan kokurikuler hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata.
“Kreativitas mading ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Anak-anak tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga belajar bekerja sama, bertanggung jawab, berpikir kreatif, serta mengimplementasikan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap semangat dan nilai yang diperoleh dari kegiatan ini dapat terus diterapkan di lingkungan madrasah maupun di masyarakat.” Ungkapnya.
Sementara itu, Wakaur Kurikulum MAN 3 Kulon Progo, Tri Handayani, S.Pd., M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari penguatan pembelajaran melalui pengalaman langsung.
“Kegiatan kokurikuler ini kami integrasikan dengan Kurikulum Berbasis Cinta agar siswa tidak hanya memahami nilai secara teori, tetapi juga mempraktikkannya melalui sebuah proses. Mulai dari mencari informasi, berdiskusi, membagi tugas, membuat karya, hingga menyampaikan pesan melalui mading, semuanya menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa.”jelasnya.
Melalui kegiatan Kreativitas Mading, MAN 3 Kulon Progo terus berupaya menghadirkan kegiatan pendidikan yang bermakna, kreatif, kolaboratif, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya dalam suasana yang menyenangkan. (Syl)




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!