KUA Lendah Selenggarakan Dialog Antar Umat Beragama di Gereja Batu Penjuru

Kulon Progo (KUA Lendah) – Terlibat dalam menjalankan dialog antar umat beragama di Gereja Batu Penjuru yang beralamat di Jatisari, Jatirejo, Lendah, Kulon Progo pada hari selasa (10/12/2025).
Kegiatan ini merupakan sebuah pendekatan sosial antar lintas agama. Dialog ini merupakan komponen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam bermasyarakat kita dihadapkan dengan pluralitas yang cukup kompleks, termasuk keragaman agama. Dengan adanya keragaman ini, bisa berpotensi menimbulkan konflik antar agama, sehingga membangun kerukunan antar umat beragama sangat penting “Gereja Batu Penjuru memiliki jama’ah kurang lebih 70 orang, kegiatannya biasanya sore hari, tetapi yang pasti itu adalah hari minggu, sebagai hari besar umat nasrani. Kalau hari minggu jam 08.00 pagi terdapat rutinan pendalaman al-kitab. Adapun anggaran dalam pelaksanaan kegiatan gereja kami lebih dominan mandiri, tidak menggantungkan bantuan pemerintah, karena prinsip kami bahwa, Seorang pengembala harus memberi dombanya, begitu.” Papar Pendeta Martinus saat ditemui di Gereja Batu Penjuru. “Adapun honor pendeta itu tidak ada, dan mereka sudah memiliki pekerjaan tetap, sehingga tidak membebankan kepada jama’ah. bahkan prinsip kami, berusaha sebisa mungkin untuk memberikan kontribusi terhadap pemerintah. Sedangkan persiapan hari raya natal saat ini sudah siap, tinggal menghadiri undagan-undangan. Namun ada persiapan tambahan karena kemarin ada MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia) yang mau merayakan disini, sehingga perlu persiapan sarana-prasarana.” ungkap Pendeta Martinus.
“Sedangkan penghuni panti saat ini ada 11, soalnya tahun kemarin tidak membuka penerimaan anak. Panti disini menampung yatim-piatu, yatim, anak terlantar, serta anak yang ditinggal orang tua. Terdapat syarat untuk bisa ikut disini yaitu harus anak sekolah, yang disini paling besar SMA dan melanjutkan bekerja. Anak-anak disini benar-benar dididik, bahkan pendeta harus bisa menjadi teladan. Disini memiliki tata tertib, kewajiban, larangan, dan peringatan yang harus dijalankan. Sementara kegiatan sehari-hari disini kalau malam belajar, kemudian jam 9 nan doa malam, setelah itu kembali ke asrama. Pagi bangun terus doa pagi, kemudian persiapan sekolah, begitu seterusnya. Adapun luas tanah mulai dari gereja, asrama laki-laki, perempuan keseluruhan sekitar 3000 m, kalau yang bangunan gereja seluas 408 m.” Pungkasnya,
Kegiatan ini dilakukan dengan silaturahmi memperkenalkan diri, sharing bersama dengan salah satu pendeta kristen. Pendeta Martinus menerima secara apresiatif dan memberikan saran agar para pegawai KUA Lendah bekerja secara profesional, melayani masyarakat secara loyal, menjalankan penyuluhan dengan turun langsung ke masyarakat, termasuk memperhatikan umat minoritas seperti kami ini. Ketika terjadi isu lintas agama, kita lebih baik konfirmasi terlebih dahulu, klarifikasi, sedangkan
Kepala KUA Lendah, Zamroni, S.Ag., M.S.I turut mengapresiasi sinergi KUA dengan pihak lintas agama untuk membangun keharmonisan antar umat beragama, Beliau berharap kegiatan keagamaan umat kristen dan perayaan hari natal bisa aman, lancar, terkendali, dan tercapai tujuan bersama. (alf/dpj).



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!