Peristiwa Isra Mi’raj dalam Perspektif Sains

Oleh: Arfan Anindito

Siswa MTsN 6 Kulon Progo

 

Peristiwa Isra Mi’raj dipandang sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Yakni ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari kawasan Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa. Lalu naik ke Sidratul-Muntaha.

Dari sudut pandang keimanan, Mi’raj merupakan salah satu mukjizat yang berada di luar batas kemampuan manusia. Dari sudut pandang sains saat ini, ada beberapa teori yang dapat membantu dalam menjelaskan bagaimana peristiwa luar biasa ini dapat dibayangkan dalam kerangka fisika.

Sains masa kini tak menganggap ruang dan waktu sebagai sesuatu yang kaku. Teori relativitas milik Einstein menunjukkan bagaimana ruang dan waktu dapat melengkung dan bagaimana jarak dapat berubah tergantung pada komponen gravitasi. Gagasan ruang-waktu ini kemudian memunculkan banyak teori spekulatif. Seperti keberadaan wormhole (lubang cacing) yang dapat menghubungkan dua titik jauh dalam ruang dan waktu. Sehingga perjalanan seolah terjadi dalam sekejap.

Dilatasi waktu juga membuka beberapa kemungkinan. Dalam kondisi yang sangat ekstrem, seperti berada dalam gaya gravitasi yang sangat kuat ataupun bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, laju waktu menjadi tidak merata.

Ini berarti objek yang berbeda dapat mengalami durasi yang berbeda pula dari sebuah peristiwa yang sama. Dua objek mungkin mengalami rentang waktu yang kontras dari kejadian yang identik. Di sisi lain, mekanika kuantum memperkaya pengetahuan manusia dengan menunjukkan bahwa struktur fundamental realitas memiliki pola yang jauh lebih rumit dan halus daripada yang dapat ditangkap oleh indra manusia.

Meski demikian, pendekatan ilmiah terhadap Mi’raj bukan upaya untuk mengurangi nilai religiusnya. Sains hanya mampu memberikan cara untuk membayangkan dan memahami fenomena yang tampak mustahil. Sains tak berupaya menilai validitas keagamaannya.

Bagi umat Islam, Mi’raj adalah peristiwa yang sepenuhnya bersifat religius. Bukan persoalan mekanika alam semesta. Bahkan, penggunaan kosakata ilmiah mungkin justru menambah kekaguman terhadap peristiwa tersebut. Karena pengetahuan manusia akan selalu terbatas di tengah fenomena yang tak terhingga.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *