Refleksi Nisfu Syakban, Pengampunan Allah dan Rekonsiliasi Sosial

Oleh: Ridho Putra
Siswa Kelas IX A MTsN 6 Kulon Progo

Apa itu Nisfu Syakban?
Nisfu Syakban adalah malam pertengahan bulan Syakban. Yaitu pada tanggal 15 dalam kalender Hijriah. Bulan Syakban dikenal sebagai bulan persiapan menuju Ramadan. Malam Nisfu Syakban diyakini sebagai malam yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah SWT. Kedudukannya dalam Islam sangat istimewa dan sering disebut sebagai malam pengampunan dosa (Lailatul Bara’ah). Yaitu malam ketika catatan amal manusia diangkat dan ketetapan takdir ditentukan.

Nisfu Syakban tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan. Tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial. Pada masa sekarang banyak remaja yang terlena oleh perkembangan zaman digital. Gadget sering kali menjadi tumpuan utama kehidupan mereka. Hingga melalaikan kewajiban kepada Tuhan. Oleh karena itu diperlukan cara berpikir yang tepat dalam memanfaatkan gadget agar dapat digunakan secara lebih bijak dan bermanfaat.

Selain itu permasalahan sosial saat ini juga semakin kompleks. Banyak kericuhan sosial terjadi di Indonesia. Seperti maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh sejumlah pejabat negara serta kebijakan kenaikan pajak yang tidak memperhatikan kondisi rakyat kecil. Hal tersebut menunjukkan adanya masalah sosial yang serius dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh sebab itu Nisfu Syakban dapat dijadikan sebagai momentum untuk mendekatkan diri dan membersihkan hati kepada Allah SWT (hablum minallah). Yakni dengan menaati seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Di samping itu kita juga perlu memperbaiki keharmonisan sosial dengan sesama manusia (hablum minannas). Seperti menumbuhkan sikap saling memahami, bergotong royong dalam kehidupan bertetangga, serta menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab bagi mereka yang memegang jabatan. Bukan untuk menindas rakyat.

Dimensi Spiritual: Malam Pengampunan

Malam Nisfu Syakban dikenal sebagai malam pengampunan. Pada malam ini Allah SWT membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu umat Islam hendaknya membenahi sikap dan perilaku. Baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan memperbanyak doa, zikir, dan istigfar, serta melakukan tobat nasuha. Hal ini agar memperoleh ampunan dan rida Allah SWT sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Dalil yang berkaitan dengan hal tersebut terdapat dalam QS. Ad-Dukhan ayat 3–4:

اِنَّا اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَۙ
فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ

Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alqur’an) pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Dimensi Sosial: Pengecualian Ampunan dan Rekonsiliasi Sosial.

Meskipun Nisfu Syakban merupakan malam pengampunan, terdapat beberapa perbuatan yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Yaitu perbuatan syirik dan sikap bermusuhan atau memutus tali silaturahmi.
Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a.:

يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Artinya:
“Allah memperhatikan seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syakban. Maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah, Ath-Thabrani, dan Ibnu Hibban; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dalam kehidupan sehari-hari refleksi dari hadis tersebut dapat diwujudkan dengan saling memaafkan kesalahan orang lain. Bukan malah bermusuhan atau memutus silaturahmi. Ampunan Allah SWT berkaitan erat dengan kemampuan manusia untuk memaafkan sesamanya. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menghilangkan dendam, perpecahan, dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Mengaktualisasikan Spirit Nisfu Syakban.
Spirit Nisfu Syakban dapat diaktualisasikan dengan memulai perdamaian, memperbanyak sedekah, serta memperkuat tali silaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar. Nisfu Syakban juga dapat dijadikan sebagai titik balik untuk memperbaiki moral dan meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Dengan demikian Nisfu Syakban menjadi jembatan menuju ampunan Allah SWT. Sekaligus momentum pembersihan diri melalui tobat serta perbaikan hubungan sosial (rekonsiliasi).

Oleh karena itu marilah kita berlomba-lomba memanfaatkan Nisfu Syakban dengan memperbanyak ibadah dan kegiatan positif guna mengharapkan berkah, pahala, dan rida Allah SWT.

Mari kita jadikan Nisfu Syakban sebagai momentum untuk menyongsong Ramadan yang bersih. Yaitu bersih jiwa dan bersih dalam kehidupan sosial.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *