Pembukaan Safari Tarawih Tingkat Kabupaten Kulon Progo 2026, Perkuat Ukhuwah dan Spirit Cinta di Bulan Ramadan

Kulon Progo (Kankemenag KP) – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo secara resmi membuka kegiatan Safari Tarawih Tingkat Kabupaten Tahun 2026 di Kompleks DPRD Kulon Progo, Senin (23/2/2026) malam.
Kegiatan ini menjadi momentum awal mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah, legislatif, forkopimda, dan masyarakat dalam suasana penuh keberkahan Ramadan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Kulon Progo Dr. H. Agung Setyawan, Wakil Bupati, jajaran pimpinan OPD, pimpinan dan anggota DPRD, Ketua DPRD Aris Saifudin, perwakilan Polres, Kodim 0731/Kulon Progo, Baznas, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo H. M. Wahib Jamil.
Dalam sambutannya, Bupati Agung Setyawan menyampaikan bahwa Safari Tarawih bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi merupakan sarana membangun kedekatan emosional antara pemerintah dan masyarakat.
“Ramadan adalah momentum memperkuat spiritualitas sekaligus solidaritas sosial. Melalui Safari Tarawih ini, kita ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat, menyerap aspirasi, serta meneguhkan komitmen pelayanan yang lebih baik dan berkeadilan,” ungkap Bupati.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai wahana meningkatkan kepedulian, kebersamaan, dan semangat gotong royong demi kemajuan Kulon Progo yang religius dan sejahtera.
Sementara itu, Ketua DPRD Kulon Progo Aris Saifudin dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam membangun daerah.
“Safari Tarawih ini menjadi simbol harmonisasi dan kebersamaan. DPRD siap bersinergi dan mengawal kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Ramadan mengajarkan kita nilai pengorbanan, kejujuran, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Kantor Kemenag Kulon Progo H. M. Wahib Jamil bertindak sebagai imam salat Isya dan Tarawih sekaligus menyampaikan tausiyah Ramadan. Dalam ceramahnya, ia mengangkat tema tentang hakikat pengorbanan dan cinta di bulan suci.
Menurutnya, kondisi dan makna hakiki dalam Ramadan adalah memberi dan berkorban, namun pada hakikatnya setiap yang dikeluarkan akan kembali kepada diri kita sendiri dalam bentuk keberkahan.
“Apapun yang kita keluarkan di bulan Ramadan, pada hakikatnya pasti akan kita terima. Saat kita memberi kepada Allah, sesungguhnya kita sedang memanusiakan diri kita sendiri. Dan ketika kita memanusiakan diri dengan sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, di situlah kita menemukan kekuatan dan kuasa yang luar biasa,” tuturnya.
Ia menambahkan, ibadah Ramadan merupakan pendidikan spiritual yang menghadirkan dua hal yang seolah bertentangan, namun sesungguhnya saling menguatkan: memberi dan menerima, menahan diri dan memperoleh kemuliaan.
Dalam tausiyahnya, Wahib Jamil juga menyampaikan kisah seorang sufi besar, Abu Yazid al-Bistami, yang hidup pada abad ke-3 Hijriyah (840–874 M). Dikisahkan, suatu malam Abu Yazid berjalan dan diikuti seekor anjing. Dalam refleksinya, ia seakan mendapat pelajaran bahwa kotoran fisik dapat dibersihkan dengan air, tetapi kotoran hati dan pikiran tidak cukup dibersihkan secara lahiriah.
“Yang mampu membersihkan jiwa dan hati manusia adalah ibadah yang tulus kepada Allah. Puasa yang kita jalankan adalah sarana penyucian batin, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membersihkan hati dari kesombongan, iri, dan kebencian,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Ramadan adalah momentum menumbuhkan cinta: cinta kepada Allah, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada bangsa dan negara, serta cinta kepada lingkungan.

Ia merumuskan empat hakikat cinta dalam kehidupan beragama. Pertama, cinta adalah fitrah yang dimiliki setiap manusia. Kedua, cinta adalah amanah yang harus dijaga dengan tanggung jawab. Ketiga, cinta adalah kebersamaan, karena orang yang benar-benar mencintai tidak akan berjalan sendiri, melainkan membangun persatuan. an keempat, cinta adalah Islah itu sendiri—yang menghadirkan kedamaian, kesejukan, serta solusi atas setiap persoalan.
“Ketika ada perbedaan dan problematika, yang kita cari bukan perpecahan, tetapi solusi dan kemaslahatan bersama. Insya Allah, hasil dari ibadah Ramadan akan memberikan keberkahan dan kebahagiaan bagi kita semua,” pungkasnya.
Kegiatan pembukaan Safari Tarawih ditutup dengan doa bersama, dengan harapan seluruh rangkaian Safari Tarawih 2026 dapat berjalan lancar dan membawa dampak positif bagi kehidupan keagamaan. dan pembangunan di Kabupaten Kulon Progo. (dpj)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!