Puasa dan Pembentukan Disiplin Pribadi Muslim

Naza Putra Prayoga
Siswa MTsN 5 Kulon Progo

Ramadan yang selalu menjamu kita sekali dalam setahun, kini segera datang lagi. Rasa gembira dengan kedatangan berbagai aktivitas. Seperti ngabuburit pada sore hari, salat tarawih pada malam hari, kemudian membaca Alquran, mengisi setiap waktu dengan zikir, bersedekah pada orang yang membutuhkan, berbuka puasa di masjid, dan salat tahajud .

Begitu pula dengan ibadah yang berkenaan dengan hati. Kita senantiasa menjaga hati dari segala kemunafikan, riya, sombong, tamak, iri dengki, dan lain-lain.

Yang jelas semua upaya dalam menyambut puasa ramadan kita harus menjaga hati dan juga pikiran agar dapat membentuk pribadi muslim yang berjiwa disiplin.

Secara kasat mata mayoritas umat Islam telah mengerjakan ibadah salat, baik yang wajib maupun sunah. Namun tampaknya ibadah yang satu ini tidak banyak berdampak terhadap diri pribadi seorang muslim. Karena seorang muslim tersebut belum mendirikan salat, tetapi baru mengerjakannya.

Mendirikan dan mengerjakan merupakan dua kata yang mirip, tetapi tak sama. Jadi mendirikan salat itu artinya menjaga. Yakni salat agar tetap tegak, kokoh, dan kuat. Sehingga salat itu dapat merasuk ke dalam jiwa kita dan selanjutnya memengaruhi pola pikir dan perilaku kita dalam bertindak. Tetapi orang yang hanya mengrjakan salat, maka ia hanya sebatas rutinitas ritual semata. Hanya menggugurkan kewajiban.

Seorang muslim yang belum mampu meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Padahal ia telah menjalankan ibadah salat. Karena jiwanya telah dirasuki oleh sifat sekuliresme, dalam arti memisahkan antara kehidupan beragama dan kehidupan duniawi.

Seorang muslim yang sudah dihinggapi sifat sekulerisme, maka ia tidak pernah merasakan hubungan antara ibadah salat dengan bisnis yang ia kerjakan. Dengan aktivitas yang ia jalankan atau apa saja yang termasuk aktivitas tentang duniawi.

Untuk kasarnya, urusan dunia ya dunia. Urusan akhirat ya akhirat. Jangan di campur aduk. Padahal Islam itu lebih menjunjung akhirat ketimbang dunia. Karena akhirat itu sifatnya abadi. Sedangkan dunia itu bersifat sementara bukan abadi. Namun menyeimbangkan dengan usaha maksimal di dunia yang bernilai ibadah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *