Ramadan: Bulan Puasa di Era Gadget dan Kecepatan Informasi

Kenzie Bhamakerti
Siswa MTsN 5 Kulon Progo
Ramadan selalu menjadi bulan penuh keberkahan. Tetapi di era sekarang tantangannya mulai berubah. Jika dulu godaan utama adalah rasa lapar dan haus. Kini godaannya justru datang dari layar kecil di tangan kita. Notifikasi, game, konten hiburan, dan media sosial bisa membuat waktu terasa hilang tanpa makna. Banyak orang berpuasa dari makan dan minum. Tetapi lupa puasa dari scrolling yang berlebihan. Padahal Ramadan bukan hanya menahan lapar. Tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang melemahkan hati.
Fenomena puasa tapi rebahan juga semakin populer di kalangan remaja. Saat menunggu adzan maghrib, sebagian orang justru tenggelam dalam drama, video pendek, atau game online, hingga lupa membaca Alqur’an atau berzikir. Padahal, Ramadan adalah kesempatan langka yang hanya hadir setahun sekali, dan setiap detiknya bernilai ibadah. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa ada banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga, karena puasanya tidak diisi dengan kebaikan.
Materi unik lain yang relevan adalah tentang puasa dari emosi digital. Kita hidup di zaman komentar pedas, debat online, dan saling serang di kolom komentar. Di bulan Ramadan, kita belajar menahan diri untuk tidak mudah marah atau tersinggung. Bahkan ketika melihat hal yang tidak sesuai di internet. Menahan jempol agar tidak mengetikkan kata-kata kasar adalah bentuk ibadah juga. Mengontrol emosi digital ini justru menjadi tantangan baru. Yang dulu tidak ada pada generasi sebelumnya.
Di bulan Ramadan juga muncul tren positif seperti berbagi digital. Misalnya sedekah online, donasi cepat, kelas ngaji daring, bahkan grup tadarus virtual. Hal-hal seperti ini membuktikan bahwa teknologi tidak selalu menjadi musuh. Justru bisa menjadi sarana memperbanyak amal. Namun tetap perlu keseimbangan, agar teknologi tidak mengambil alih hati. Gunakan gadget sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan sebagai pengalih fokus dari ibadah.
Yang tak kalah menarik adalah konsep detoks hati dan pikiran. Ramadan mengajarkan kita untuk membersihkan isi hati dari iri, benci, dendam, dan pikiran negatif. Jika kita bisa menahan makan dan minum selama 13–14 jam, mengapa tidak menahan diri dari pikiran buruk? Ramadan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang kita konsumsi. Tetapi dari kebersihan hati. Dengan hati yang bersih, hubungan dengan keluarga, teman, dan masyarakat menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, Ramadan mengajak kita untuk menjadi pribadi yang lebih peka dengan waktu. Kita belajar bahwa produktif bukan berarti selalu sibuk. Tetapi melakukan hal yang bernilai. Ramadan menyuruh kita menata prioritas: antara dunia dan akhirat, antara kesibukan dan ketenangan, antara gadget dan Alqur’an. Ketika hidup semakin cepat, Ramadaan hadir untuk memperlambat kita sejenak agar kita kembali mengingat makna hidup.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!