Ramadan dan Puasa dari Sinyal: Belajar Ibadah di Era Lemot dan Overthinking

Kenzie Bhamakerti Siswa MTsN 5 Kulon Progo
Ramadan tahun ini menghadirkan fenomena baru yang jarang dibahas: puasa dari sinyal. Bukan berarti kita tidak boleh pakai internet. Tetapi bagaimana manusia modern kadang lebih panik kehilangan sinyal daripada kehilangan amalan. Ketika sinyal hilang sebentar saja, orang bisa marah, gelisah, resah, dan overthinking. Padahal ketika hati kosong dari zikir atau Alqur’an, kita sering santai-santai saja tanpa merasa bersalah. Di sinilah letak keunikannya: Ramadan adalah momen untuk mengembalikan fokus. Bukan hanya ke layar, tetapi ke dalam diri.
Di era sekarang, banyak orang menjalani puasa elektrik. Setiap menjelang maghrib, HP ditaruh, baterai melemah, sinyal hilang, dan kita tiba-tiba sadar bahwa sepi itu ternyata indah. Ramadan mengajarkan bahwa ketenangan tidak membutuhkan koneksi Wi-Fi, tetapi koneksi dengan Allah. Menahan diri dari panik ketika sinyal hilang sebenarnya adalah latihan sabar tingkat tinggi. Dalam hidup sehari-hari, kita sering kehilangan mood hanya karena internet lemot. Padahal, sabar menghadapi sinyal adalah latihan sabar menghadapi hidup.
Fenomena lain yang unik adalah puasa dari overthinking. Kita hidup di zaman yang memaksa untuk selalu memikirkan segala hal. Tugas sekolah, perasaan orang lain, drama hubungan, sampai hal-hal kecil yang bahkan belum terjadi. Ramadan mengajarkan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat bahwa kita hanya manusia. Berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum. Tetapi juga menahan pikiran liar yang membuat hati tidak tenang. Overthinking adalah lapar pikiran. Dan Ramadan memberikan hidangan ketenangan berupa zikir, doa, dan waktu berbincang dengan diri sendiri.
Yang lebih menarik lagi, Ramadan seolah mengajak kita menjalani puasa dari kecemasan masa depan. Kita sering takut ketinggalan tren, takut gagal, takut tidak cukup baik. Tetapi Ramadan mengingatkan bahwa rezeki sudah diatur, takdir sudah ditentukan, dan yang kita lakukan hanyalah berikhtiar sebaik mungkin. Jika Allah bisa memberi nikmat tak terhitung selama 11 bulan, mengapa kita masih ragu pada satu bulan yang penuh berkah dan kelapangan?
Ada pula konsep charging spiritual yang hanya bisa kita dapatkan di Ramadan. Sama seperti HP yang butuh diisi ulang. Hati kita juga butuh di-charge. Namun charger hati bukan stop kontak. Melainkan waktu sahur yang tenang, doa setelah berbuka, tarawih yang membuat tubuh rileks, dan Alqur’an yang seperti powerbank untuk ruhani. Ramadan bukan meminta kita untuk sempurna. Tetapi untuk tersambung—bukan ke jaringan internet, melainkan ke jaringan iman.
Pada akhirnya, Ramadan mengubah cara kita melihat dunia. Ketika sinyal hilang, kita belajar sabar. Ketika puasa, kita belajar mengontrol diri. Ketika overthinking, kita belajar berserah. Ternyata hidup tidak sesulit itu jika kita mau menurunkan kecepatan. Ramadan adalah jeda yang mengajarkan bahwa istirahat adalah ibadah, ketenangan adalah rezeki, dan fokus adalah kunci. Setelah Ramadan berakhir, semoga kita tidak kembali menjadi hamba notifikasi. Tetapi hamba yang lebih dekat pada Allah.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!