Sajak Janur Kuning: Jogja Ora Didol

Taufik Rafi’ Rizqullah
Siswa MTsN 5 Kulon Progo

Fajar di Malioboro pecah oleh pekik yang membara,
Janur kuning di lengan menjadi saksi sumpah setia.
“Setya Budaya Panggahing Kayun,” teguh budi dalam tekad,
Merebut kembali kedaulatan yang sempat terikat.

Sultan dan rakyat manunggal dalam satu barisan,
“Manunggaling Kawula Gusti,” menyatu dalam keberanian.
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,
Siapa pun yang menghalang, pasti akan tumbang dan buntung.

Enam jam Yogyakarta digenggam dalam kuasa kita,
Membungkam congkak dunia dengan darah dan air mata.
“Golong Gilig,” semangat bulat yang tak bisa terbelah,
Membuktikan bahwa bangsa ini takkan pernah menyerah.

Kedaulatan Mataram adalah harga diri yang abadi,
Terpatri di tiap sudut jalan dan relung sanubari.
“Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake,”
Berjuang dengan wibawa, menang tanpa harus merendahkan lawan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *