Sinergi KUA dan PKH Pengasih Berdayakan Warga Kopok Wetan Tawangsari

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Penataan ekonomi keluarga tidak hanya soal angka di atas kertas, namun erat kaitannya dengan kemampuan mengendalikan diri. Hal tersebut ditegaskan oleh Muhammad Munawir, S.Ag., Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, dalam kegiatan Pembinaan Keluarga Penerima Manfaat (PKM) yang berlangsung di Padukuhan Kopok Wetan, Tawangsari, Pengasih pada Rabu (04/02/2026) pagi.

Dalam paparannya Munawir menekankan bahwa kunci stabilitas ekonomi dimulai dari kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ia membagikan tiga tips mengendalikan diri dari keinginan yang sering menjadi pemicu “kegalauan” finansial:
Satu; menunda Keinginan yang Belum Waktunya: Keinginan memiliki sesuatu yang sebenarnya belum pantas atau belum saatnya dimiliki. Dua; menakar Kemampuan Diri: Keinginan memiliki sesuatu yang jelas berada di luar jangkauan kemampuan finansial saat ini. Tiga; menghargai Hak Orang Lain: Keinginan untuk memiliki sesuatu yang secara jelas bukan merupakan hak atau milik kita. “Jika kita mampu mengendalikan tiga hal ini, maka penataan ekonomi keluarga akan jauh lebih tenang dan terukur,” ujar Munawir. Ia juga menambahkan bahwa silaturahim adalah kunci perluasan rezeki karena mampu menumbuhkan jaringan ekonomi melalui relasi yang positif.

Hadir dalam acara tersebut, Emi Listiawati, Pendamping PKH Kapanewon Pengasih, yang turut melakukan monitoring dan pendampingan ekonomi. Kegiatan ini merupakan langkah konkret tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah terjalin antara KUA Pengasih dan PKH Pengasih.

Menanggapi kegiatan ini, Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H, S.H.I, M.S.I, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah kolaboratif yang dilakukan para penyuluhnya. Beliau menegaskan bahwa peran KUA saat ini harus semakin luas dan menyentuh persoalan riil masyarakat. “Kami di KUA Pengasih berkomitmen bahwa bimbingan keagamaan tidak boleh terputus dari realitas sosial-ekonomi masyarakat. Melalui sinergi ini, kami ingin memastikan bahwa para penerima manfaat tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi. Spiritual yang matang akan melahirkan pola pikir ekonomi yang sehat,” tegas Rangga.

Sinergi ini diharapkan dapat memberikan penguatan dua arah: KUA memberikan bimbingan dari sisi mental-spiritual, sementara PKH memberikan pengawalan dari sisi manajemen ekonomi bantuan sosial. Dengan pendekatan kolaboratif ini, diharapkan para penerima manfaat dapat segera “naik kelas” dan mencapai kemandirian yang berkelanjutan.(lua/dpj)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *