Waspada “Super Flu”, KUA Pengasih Ajak Warga Gegunung Bekali Diri dengan Iman dan Pola Hidup Sehat

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Di tengah isu kesehatan global yang dinamis, Pertemuan pada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Program Keluarga Harapan (PKH) Padukuhan Gegunung, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, menggelar penyuluhan intensif pada Jumat (06/02/2026) siang.

Kegiatan yang didampingi oleh Pendamping PKH, Erwan Febri Wijayanto ini menghadirkan Mukhyidin, S.Kom dan Muhammad Musodiqin, S.Sos, Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih. Pertemuan kali ini terasa spesial karena tidak hanya membedah sisi medis, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dalam menghadapi tantangan zaman.

Materi utama yang disampaikan Erwan adalah kewaspadaan terhadap fenomena “Super Flu” atau Influenza A (H3N2) Subclade K. Berdasarkan data yang dipaparkan, virus ini telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat setidaknya 62 kasus terkonfirmasi, dengan persebaran utama di wilayah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. “Gejalanya memang lebih berat dibandingkan flu biasa, seperti demam tinggi yang persisten, batuk kering, hingga nyeri otot yang hebat,” jelas Erwan. Meski penularannya tergolong cepat, masyarakat diminta tetap tenang namun waspada. Kementerian Kesehatan telah memastikan bahwa situasi masih terkendali dan fenomena ini bukanlah pandemi baru.

Tak hanya soal fisik, peserta juga diajak merefleksikan pentingnya manajemen waktu dan kesabaran melalui pesan mendalam Surah Al-Ashr ayat 1-3. Materi ini menekankan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

“Menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah waktu dan iman. Dengan menjaga diri agar tidak sakit, kita sedang berupaya agar tidak menjadi golongan yang merugi sebagaimana diingatkan dalam Al-Ashr,” Ujar Musodiqin.

Ditemui secara terpisah, Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H, S.H.I, M.S.I, memberikan apresiasi mendalam atas inisiatif kolaborasi materi kesehatan dan religi ini. Menurutnya, pemahaman masyarakat harus bersifat komprehensif. “Kami sangat mendukung penyuluhan yang mengintegrasikan aspek jasmani dan rohani seperti ini. Kesehatan adalah modal utama untuk beribadah. Dengan memahami risiko penyakit seperti Super Flu dan memegang teguh nilai kesabaran serta saling menasihati, warga tidak akan mudah panik dan justru semakin solid dalam menjaga lingkungan,” ungkap Rangga.

Semoga kegiatan ini menjadi nilai tambah dan penguatan diri bagi warga setempat untuk tetap menjaga diri dan lingkungan demi terhindarnya penyakit tersebut.(lua/dpj)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *