Memaknai Hari Pendidikan Nasional, Warisan Ki Hajar Dewantara di Era Digital

Oleh: Ridho Putra
Siswa MTsN 6 Kulon Progo
Tanggal 2 Mei merupakan momentum penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Setiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Bertepatan dengan hari lahir tokoh aktivis revolusi Nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Beliau lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta.
Momentum ini diperingati setiap tahun untuk menghormati jasa beliau dalam dunia pendidikan Indonesia. Sekaligus meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Pendidikan menjadi fondasi terbentuknya generasi bangsa yang mampu memimpin negeri ini dengan lebih baik.
Jasa beliau dalam dunia pendidikan Indonesia diwujudkan melalui Taman Siswa yang didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa berfokus mencerdaskan rakyat jelata melalui kurikulum berbasis nasionalisme, menanamkan jiwa merdeka, dan mendobrak diskriminasi pemerintah kolonial yang hanya memprioritaskan kaum bangsawan.
Semangat tersebut selaras dengan semboyan beliau dalam pendidikan. Yaitu Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Yang berarti di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat atau ide, dan di belakang memberi dorongan. Hal tersebut dimaksudkan bahwa peran pendidik adalah sebagai panutan, motivator, dan pendorong kemandirian siswa.
Tema Hari Pendidikan Nasional 2026 adalah Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar, Wujudkan Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Berdaya Saing. Tema ini berfokus pada keberlanjutan transformasi pendidikan, kolaborasi, serta pembentukan karakter generasi muda untuk menghadapi tantangan global.
Kondisi dan tantangan pendidikan di era digital saat ini antara lain maraknya penggunaan media sosial sebagai cara cepat mengerjakan soal atau tugas yang diberikan guru. Meskipun ada dampak positif berupa kemudahan mencari informasi, terdapat pula dampak negatif. Banyak wilayah pelosok di Indonesia yang masih sulit mendapatkan sinyal dan akses teknologi digital yang memadai. Sehingga menimbulkan kesenjangan akses atau digital divide.
Pada dasarnya di era digital para pendidik dituntut cepat beradaptasi agar tidak tergeser oleh teknologi yang sangat canggih. Tetapi tetap mempertahankan kebudayaan dan karakter bangsa.
Kita juga mengetahui bahwa peran pendidik dalam mengajar sangat vital dan penting. Pendidik bukan hanya sebagai penyampai materi. Tetapi juga fasilitator, motivator, dan teladan yang membentuk karakter serta menginspirasi siswa. Poin penting yang perlu digarisbawahi adalah karakter atau watak siswa akan tumbuh dan terbentuk dari pengaruh pengajar. Sikap pengajar yang mencontohkan teladan baik akan melahirkan watak dan karakter siswa yang baik serta sopan.
Oleh karena itu marilah kita tingkatkan pendidikan di Indonesia. Hal ini agar mampu maju dan bersaing dengan negara lain melalui cara meningkatkan kualitas pengajar, sarana dan prasarana, literasi-numerasi, serta kolaborasi teknologi digital yang inklusif. Dengan demikian kita dapat mencapai pendidikan yang maju di Indonesia dan mewujudkan Generasi Emas 2045.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!