Sebuah Refleksi di Hardiknas 2026: Guru sebagai Penggerak Utama dalam Menguatkan Keterlibatan Semesta

Kasmad Rifangi, M.Pd.I
Kepala MIN 1 Kulon Progo

Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk tidak sekadar merayakan, tetapi juga merenungkan arah dan wajah pendidikan kita hari ini. Di tengah berbagai capaian dan perubahan kebijakan, satu hal yang tetap tidak berubah adalah posisi strategis guru sebagai penggerak utama dalam proses pendidikan. Namun, refleksi ini perlu melangkah lebih jauh: apakah guru telah benar-benar didukung sebagai penggerak, dan sejauh mana keterlibatan semesta telah terbangun secara nyata?

Realitas pendidikan saat ini menunjukkan bahwa guru masih berada dalam pusaran tuntutan yang kompleks. Di satu sisi, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu membentuk karakter peserta didik. Di sisi lain, mereka masih dibebani dengan tugas administratif yang tidak sedikit, keterbatasan sarana, serta kesenjangan dukungan antar satuan pendidikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin guru dapat menjadi penggerak utama jika ekosistem yang mendukungnya belum sepenuhnya kuat?

Di sinilah pentingnya memaknai keterlibatan semesta sebagai kebutuhan, bukan sekadar jargon. Pendidikan tidak bisa lagi dipandang sebagai tanggung jawab tunggal sekolah atau guru. Orang tua, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, hingga komunitas lokal memiliki peran yang tidak terpisahkan. Namun, keterlibatan ini seringkali masih bersifat parsial dan belum terkoordinasi secara optimal. Banyak pihak ingin berkontribusi, tetapi belum memiliki ruang dan arah yang jelas.

Guru, dalam konteks ini, bukan hanya pelaksana pembelajaran, tetapi juga penghubung yang mampu menjalin kolaborasi. Guru yang kuat bukan hanya yang mampu mengajar dengan baik, tetapi juga yang mampu menggerakkan lingkungan di sekitarnya untuk ikut terlibat dalam pendidikan. Ketika guru mampu membangun komunikasi yang efektif dengan orang tua, misalnya, maka proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ketika guru mampu menggandeng masyarakat dan komunitas, maka sekolah/madarsah tidak lagi menjadi ruang yang terpisahkan, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas.

Namun, peran sebagai penggerak tentu tidak dapat berdiri sendiri. Guru membutuhkan dukungan yang kuat dan konkret. Kebijakan yang berpihak, pelatihan yang relevan, pengurangan beban administratif, serta penyediaan sarana yang memadai menjadi prasyarat agar guru dapat berperan optimal. Tanpa itu, peran sebagai penggerak hanya akan menjadi ekspektasi tanpa realisasi.

Di sisi lain, refleksi Hardiknas juga harus menyentuh peran orang tua dan masyarakat. Keterlibatan mereka tidak cukup hanya dalam bentuk kehadiran pada kegiatan formal, tetapi perlu diwujudkan dalam dukungan nyata terhadap proses belajar anak. Di era digital, tantangan pendidikan semakin kompleks dan kompleks, sehingga sinergi antara sekolah/madrasah dan rumah menjadi sangat penting. Pendidikan karakter, misalnya, tidak akan berhasil jika nilai yang diajarkan di sekolah tidak diperkuat di lingkungan keluarga.

Lebih jauh, dunia usaha dan komunitas juga memiliki ruang kontribusi yang besar. Dukungan terhadap fasilitas, program pembelajaran berbasis pengalaman, hingga penguatan keterampilan abad 21 dapat menjadi bagian dari keterlibatan semesta. Namun, semua ini membutuhkan koordinasi yang baik dan visi bersama yang jelas.

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Guru tetap menjadi penggerak utama, tetapi mereka tidak berjalan sendiri. Keterlibatan semesta harus dibangun sebagai sistem yang terintegrasi, bukan sekadar partisipasi sporadis.

Pada akhirnya, refleksi ini mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang baik, tetapi oleh sejauh mana kita mampu bekerja bersama. Ketika guru diberdayakan dan keterlibatan semesta benar-benar dihidupkan, maka pendidikan tidak lagi menjadi beban satu pihak, melainkan gerakan bersama menuju kualitas yang lebih baik. Inilah makna sejati dari Hardiknas: bukan hanya mengenang perjuangan, tetapi melanjutkan dengan kolaborasi yang nyata.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *