Takbir dan Aroma Sate

Virona Dwi Rahayu
Siswa MTsN 5 Kulon Progo
Mentari pagi perlahan menyapa,
Gema takbir memenuhi angkasa.
“Allahu Akbar…” terdengar merdu,
Membuat hati terasa syahdu.
Jalanan ramai penuh senyuman,
Anak kecil berlarian kegirangan.
Baju terbaik dipakai semua,
Walau kadang sandalnya beda warna.
Aroma sate mulai menggoda,
Asapnya naik menari di udara.
Tetangga datang saling menyapa,
Rumah sederhana terasa istana.
Iduladha bukan sekadar perayaan,
Bukan hanya tentang makanan.
Namun tentang hati yang belajar ikhlas,
Meski memberi kadang terasa keras.
Di hari itu langit terasa dekat,
Doa-doa melayang dengan hangat.
Tawa keluarga bercampur harapan,
Menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Dan lihatlah wajah-wajah bahagia,
Tak peduli kaya ataupun biasa.
Karena Iduladha mengajarkan arti,
Bahwa berbagi mampu mengenyangkan hati.
Lucunya lagi setiap tahun tiba,
Yang dicari pertama pasti tusuk satenya.
Belum duduk sudah bertanya cepat,
“Dagingnya mana? Perutku sudah rapat!”
Namun dari semua tawa yang terdengar,
Ada pesan indah yang terus bergetar,
Bahwa hidup paling indah dijalani,
Saat kita mampu berbagi dan peduli.
Iduladha hadir membawa cahaya,
Menghangatkan dunia dengan cinta.
Dan di antara takbir yang menggema,
Kita belajar menjadi manusia sesungguhnya.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!