Kepala KUA Wates Sambut Kepulangan 74 Jemaah Haji: “Semoga Menjadi Teladan Kebaikan di Tengah Masyarakat”

Kulon Progo (KUA Wates) – Kepulangan jemaah haji hendaknya tidak hanya menjadi akhir dari perjalanan ibadah di Tanah Suci, tetapi juga menjadi awal pengabdian yang lebih baik di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Kepala KUA Wates, Marjuki, S.H.I., M.S.I., saat memberikan sambutan pada acara Mangayubagya Jemaah Haji Wates Tahun 2026 yang dirangkai dengan pengajian rutin ASN Wates di Masjid Jami’ Wates, Rabu (10/6/2026) pagi.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut dihadiri jemaah haji, ASN, tokoh agama, serta tamu undangan lainnya. Sebanyak 74 jemaah haji asal Kapanewon Wates mengikuti acara penyambutan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh rasa syukur.

Dalam sambutannya, Marjuki menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh jemaah yang telah kembali ke tanah air dengan selamat setelah menunaikan rukun Islam kelima. “Atas nama keluarga besar KUA Wates, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh jemaah haji. Semoga seluruh amal ibadah yang telah dilaksanakan diterima Allah SWT dan memperoleh predikat haji mabrur dan mabrurah,” ujarnya.

Menurut Marjuki, pengalaman spiritual selama berada di Tanah Suci merupakan bekal berharga yang harus dijaga dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap para jemaah dapat menjadi figur teladan yang menghadirkan kesejukan, persatuan, dan semangat kebersamaan di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, tausiyah disampaikan oleh KH. Jazari, S.Ag. dengan tema “Haji Mabrur dan Mabrurah”. Ia menjelaskan bahwa kemabruran haji tidak diukur dari gelar yang disandang, melainkan dari perubahan sikap, akhlak, dan kualitas pengabdian kepada Allah SWT serta sesama manusia.

Menurutnya, haji yang mabrur akan melahirkan pribadi yang lebih disiplin dalam beribadah, lebih santun dalam bertutur kata, serta lebih aktif memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, persaudaraan, dan kepedulian sosial yang diperoleh selama berhaji harus terus dijaga dan dikembangkan setelah kembali ke tanah air.

“Ukuran haji mabrur terlihat dari perubahan perilaku. Ketika seseorang menjadi lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah SWT, maka itulah tanda-tanda kemabruran yang nyata,” tutur KH. Jazari.

Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh perwakilan jemaah haji Wates, Drs. H. Tukidi, M.S.I., yang memohon keberkahan, kesehatan, serta kemantapan iman bagi seluruh jemaah haji dan masyarakat Wates. (rar/mel)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *