Belajar dari Mbah Sadiman, Keteguhan Menjaga Lingkungan

Mbah Sadiman (Sumber foto asli: Mongabay.co.id)
“Cita-cita saya bukan Kalpataru, tetapi ingin membantu masyarakat setiap saat ada manfaatnya.” _Sadiman_
Setelah 20 tahun, air melimpah bersumber dari mata air di hutan. Mencukupi kebutuhan rumah tangga, dan area persawahan. Sejak tahun 1996, Mbah Sadiman menanam pepohonan di bukit dekat tempat ia tinggal. Lereng Gunung Lawu bagian selatan. Tepatna di Bukit Kukusan, Wonogiri. Sekira 4000 batang pohon telah ia tanam.
Mata air, hanya menjadi satu bagian dari hasil perjuangan Mbah Sadiman menghijaukan bukit dengan tanaman Beringin, Bulu dan sejenisnya. Pada sisi lain, bukit yang dulu gersang kini menjadi hijau. Kemarau tidak lagi mengeringkan mata air, atau menenyebabkan kebakaran. Sementara pada musim hujan, daerah yang dulu sering dilanda banjir dan longsor itu, kini menjadi lebih aman. Akar-akar pohon mampu menahan aliran air, memberi waktu untuk bisa meresap ke dalam tanah.
Hutan yang kini tumbuh subut itu dikenal dengan nama Hutan Sadiman. Pada tahun 2016, ia memperoleh Kalpataru, penghargaan bergengsi bagi para pegiat lingkungan. Tetapi bagi Sadiman, Kalpataru bukan tujuan. Ia menanam pohon karena menyadari daerahnya gersang. Ia ingin menghidupkan kembali mata air-mata air yang sebelumnya mati.
Awal menanam, Mbah Sadiman menggunakan uang pribadi untuk membeli bibit tanaman. Ia menjual ternak dan hasil panen. Sebagian orang menganggapnya tidak waras. Karena apa yang dia tanam tidak langsung membuahkan hasil yang bisa dipanen. Sebagian orang ada yang sengaja mencabut pohon yang ia tanam, karena dianggap sebagai gangguan.
Bagi seorang muslim, menanam tanaman bisa menjadi sedekah. Meskipun apa yang dia tanam dimakan (dirusak) manusia atau hewan.
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, hewan atau burung kecuali hal itu merupakan sedekah untuknya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)
Tetapi kesabaran dan keuletan Mbah Sadiman, lambat tetapi pasti membuahkan manfaat. Perlahan orang-orang di sekitarnya mulai menyadari. Sebagian mereka kemudian ikut mendukung apa yang dilakukan Mbah Sadiman. Termasuk dari berbagai instansi dan perusahaan yang memberikan bantuan berupa dana untuk penghijauan. Kini banyak orang telah menikmati hasilnya. Mbah Sadiman mampu menggerakan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan keteladanan. []
Oleh : Eko Triyanto (Staf Kemenag Kulon Progo, Penjaga Kebun Tani Juara)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!