Lestarikan Warisan Budaya, Penyuluh KUA Pengasih dan UMKM Kulon Progo Nimba Ilmu Meracik Jamu

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Dalam upaya melestarikan tradisi kebudayaan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih bersama para pelaku UMKM Kulon Progo menggelar kegiatan silaturahim dan nimba ilmu meracik jamu tradisional pada Sabtu (1/8/2026).
Rombongan yang terdiri dari Musodiqin, S.Sos. (Penyuluh KUA Pengasih) serta para pelaku UMKM Kulon Progo uang terdiri dari Siti Khotijah, Purwanti, dan Rumilah secara khusus mendatangi Desa Wisata Jamu Kiringan yang berlokasi di Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul. Di sana, mereka belajar langsung mengenai teknik dan tata cara meracik jamu yang baik dan benar kepada pakar jamu setempat, H. Sutrisno.
Jamu tradisional sendiri merupakan minuman herbal khas Nusantara dari rempah alami yang diwariskan secara turun-temurun. Eksistensinya yang telah mengakar sejak ratusan tahun lalu, bahkan terpahat dalam relief Candi Borobudur, membuktikan advanced-nya pengetahuan pengobatan alami masyarakat Jawa Kuno. Keagungan warisan leluhur ini pun telah diakui dunia setelah UNESCO menetapkan Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 6 Desember 2023.
Dalam sesi pelatihan dan silaturahim tersebut, H. Sutrisno selaku Ketua Desa Wisata Jamu Kiringan menyambut hangat kedatangan rombongan dari Kulon Progo. Ia memberikan bimbingan langsung terkait pemilihan bahan alami, pengolahan higienis, hingga racikan yang tepat untuk menjaga kesehatan stamina masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi semangat rekan-rekan dari Kulon Progo. Harapan kami, langkah ini kelak dapat memicu terwujudnya Sentra Jamu di Kabupaten Kulon Progo. Sektor jamu tradisional ini sangat potensial menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM serta penyerapan tenaga kerja lokal,” tutur H. Sutrisno.
Menanggapi langkah proaktif penyuluh dan para pelaku UMKM tersebut, Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., memberikan apresiasi dan dukungan penuh atas sinergi yang terjalin.
“Kami sangat mendukung kegiatan penimbaan ilmu ini. Selain sebagai ikhtiar melestarikan warisan budaya leluhur yang diakui UNESCO, keterampilan meracik jamu ini memiliki dimensi pemberdayaan ekonomi umat yang nyata. Semoga ilmu yang didapat dari Desa Wisata Kiringan bisa ditularkan dan dikembangkan di wilayah binaan Penyuluh Pengasih khususnya dan Kulon Progo pada umumnya,” ungkap Rangga.
Melalui kegiatan silaturahim dan edukasi ini, diharapkan para peserta tidak hanya mampu menyajikan minuman herbal berkualitas, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian berbasis potensi lokal di wilayah Kulon Progo.(lua/mel)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!