Upacara Peringati Hari Keistimewaan Yogyakarta, Musera Kenakan Kebaya Lurik

Kulon Progo (Musera) – Keluarga besar MI Muhammadiyah Serangrejo (Musera) menggelar upacara bendera khidmat dalam rangka memperingati Hari Keistimewaan Yogyakarta pada Senin (31/8/2026) pagi. Berbeda dari upacara Senin biasanya, seluruh peserta upacara, mulai dari murid, guru, hingga staf karyawan, tampak anggun dan berwibawa mengenakan pakaian adat kain kebaya serta lurik khas Ngayogyakarta.
Pada upacara bendera kali ini, murid kelas VI mendapatkan kepercayaan penuh untuk bertugas sebagai pelaksana. Sementara itu bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Guru Kelas VI, Istiqomah, S.Pd.
Dalam amanatnya, Isti mengupas tuntas ragam alasan mengapa Yogyakarta menyandang predikat sebagai daerah istimewa. Khususnya dari kacamata edukasi dan kebudayaan bagi generasi muda.
”Yogyakarta adalah kota kelas raksasa. Di mana setiap sudut kotanya sarat akan ilmu sejarah. Adanya keraton dan candi menjadi bukti bahwa kota ini adalah buku sejarah yang hidup. Yogyakarta juga merupakan pusat sains yang seru berkat keberadaan Taman Pintar yang menyediakan banyak alat peraga sains interaktif, tempat anak-anak bisa mencoba eksperimen secara langsung. Tidak hanya itu, di sini kita bisa belajar budaya lewat praktik langsung, seperti membatik, menabuh gamelan, hingga membuat gerabah dari tanah liat. Kita juga disuguhi karya edukasi alam, mulai dari belajar mitigasi bencana di lereng Gunung Merapi hingga mengenal satwa di Gembira Loka Zoo,” urai Isti.
”Hebatnya lagi, seluruh fasilitas edukasi yang luar biasa ini dapat diakses dengan biaya yang sangat terjangkau oleh masyarakat umum,” tambahnya.
Pelaksanaan upacara peringatan yang sarat akan nilai nasionalisme dan pelestarian budaya ini mendapat dukungan penuh dari manajemen madrasah. Kepala MI Muhammadiyah Serangrejo, Sumarsih, M.S.I., menegaskan pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan daerah sejak dini kepada para Murid. ”Kami sangat mendukung penuh pelaksanaan upacara bendera memperingati Hari Keistimewaan Yogyakarta ini. Melalui momentum ini ditambah dengan penggunaan pakaian adat lurik, kita tidak hanya mengajarkan sejarah secara teori. Tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki, menghargai, dan bangga terhadap kekayaan budaya lokal yang adiluhung dalam diri anak-anak,” tegas Kamad.
Suasana upacara yang edukatif ini memberikan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satu murid kelas bawah yang turut mengikuti upacara dengan takzim, Rafan Maulana Ghifari mengaku bangga dan senang bisa mengetahui lebih banyak tentang keistimewaan daerah tempat tinggalnya. ”Saya senang sekali mengukuti upacara hari ini. Apalagi waktu pakai baju lurik bersama teman-teman. Mendengar amanat pembina upacara, saya jadi tahu mengapa Yogyakarta disebut daerah istimewa. Ternyata banyak sekali tempat belajar yang seru dan murah, seperti Taman Pintar dan Gembira Loka. Saya jadi makin bangga tinggal di Yogyakarta,” kata Rafan. (ist/abi).
#KementerianSemuaAgama
#MakinDigitalMenjangkauUmat



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!