Cahaya Yang Tak Pernah Padam dari Bilik Pesantren

Novita Aulia Mega
Murid MTsN 5 Kulon Progo

Di bilik kayu yang lampunya temaram,
Kami mengeja huruf demi huruf cahaya,
Bukan untuk menjadi tinggi dan tenggelam dalam kesombongan,
Tapi untuk memahami betapa rendahnya kami di hadapan-Nya.

Sarung yang melilit tubuh kami,
Bukan sekadar kain penahan dingin,
Ia adalah janji yang dijahit rapi,
Antara langit dan tanah air yang kami cintai.

Kami belajar bahwa cinta negeri adalah sebagian dari iman,
Hubbul wathan minal iman,
Maka ketika seruan Jihad itu menggema di tahun empat lima,
Darah santri lah yang pertama mengalir membasahi halaman.

Jangan tanya apa yang santri punya,
Kami hanya punya doa di sepertiga malam,
Tasbih yang tak henti berputar,
Dan kitab kuning yang mengajarkan kami arti kesabaran.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *