Penyuluh KUA Nanggulan Ikuti Pembekalan Lima Bekal Penyuluh Welas Asih dari Direktur Penais

Kulon Progo (KUA Nanggulan) — Ratusan Penyuluh Agama Islam dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti kegiatan Implementasi Regulasi Kepenyuluhan DIY yang diselenggarakan Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf (Penaiszawa) Kanwil Kementerian Agama DIY di MAN 2 Kulon Progo, Selasa (13/10/2026). Rombongan Penyuluh Agama Islam KUA Nanggulan turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Muhammad Hanafi, Lc., M.A., hadir memberikan pembekalan. Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Kanwil Kemenag DIY serta para Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota se-DIY.

Dalam arahannya, Hanafi menekankan pentingnya transformasi peran penyuluh agama melalui pendekatan welas asih. Ia memaparkan lima bekal utama yang perlu dimiliki Penyuluh Welas Asih, yaitu ketulusan hati, kedalaman ilmu, keluwesan bahasa, aksi nyata, dan keteladanan yang menyejukkan.

“Penyuluh harus menjadi tempat berteduh bagi masyarakat, hadir membawa kedamaian, dan merangkul semua kelompok dengan kasih sayang,” pesannya.

Selain itu, Hanafi mendorong penyuluh agama untuk aktif memanfaatkan ruang digital dengan tetap mengedepankan kehati-hatian dan pesan yang menyejukkan. Prinsip tersebut dirangkum dalam ungkapan “Saring sebelum sharing, sejuk sebelum viral”. Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan QS. Ar-Ra’d ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Suyatno, S.T., Penyuluh Agama Islam KUA Nanggulan yang mengikuti kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa pembekalan ini memberikan wawasan untuk meningkatkan kualitas pendampingan kepada masyarakat.

“Pembekalan ini sangat membuka wawasan kami. Penyuluh tidak cukup hanya berceramah, tetapi harus hadir mendampingi dan merangkul masyarakat dengan kasih sayang. Kami siap mengimplementasikan semangat ini di Nanggulan,” ujarnya.

Melalui pembekalan ini, penyuluh agama diharapkan semakin menguatkan perannya sebagai pendamping masyarakat yang mengedepankan ketulusan, kompetensi, komunikasi yang santun, aksi nyata, dan keteladanan. Pendekatan welas asih diharapkan dapat menghadirkan layanan bimbingan keagamaan yang lebih inklusif, menyejukkan, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. (cho/mel)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *