Perkuat Ketahanan Keluarga, Penyuluh KUA Pengasih Gelar Pusaka Sakinah dan Edukasi Parenting Bersama Kader Kalurahan Karangsari

Kulon Progo (KUA Pengasih) — Dalam rangka membangun generasi masa depan yang tangguh secara mental dan spiritual, Kantor Urusan Agama (KUA) Pengasih kembali menggencarkan program pembinaan keluarga melalui kegiatan Pusaka Sakinah. Kegiatan strategis ini digelar bersama para Kader Kalurahan Karangsari dengan menghadirkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan unsur keagamaan dan kesehatan.

Hadir dalam acara tersebut Kamituwa Kalurahan Karangsari, Sugeng Riyadi, yang memberikan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas kader di wilayahnya. Sementara itu, materi utama disampaikan secara komprehensif oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Luazizah, S.H.I., serta didukung oleh pemaparan dari Purwiningsih mewakili Puskesmas Pengasih II.

Dok.Pusaka Sakinah Kader Karangsari

Dalam pemaparannya, Luazizah menyoroti pentingnya kesadaran orang tua dalam menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak dan remaja. Ia membedah secara mendalam berbagai bentuk kesalahan pola asuh (parenting) yang kerap tanpa sadar dilakukan di dalam rumah tangga:
Pertama; Pola Asuh Otoriter (Authoritarian): Ditandai dengan tuntutan kepatuhan mutlak, minimnya empati, aturan kaku, hingga penggunaan hukuman fisik atau verbal. Dampaknya, anak merasa tidak dihargai, tertekan, dan memendam emosi berlebih.

Kedua; Pola Asuh Permisif (Permissive): Sangat memanjakan anak tanpa batasan atau aturan yang jelas serta menuruti semua keinginan tanpa edukasi konsekuensi. Hal ini membuat anak tumbuh tanpa kontrol diri yang baik dan rapuh saat menghadapi penolakan di dunia luar.

Ketiga; Pola Asuh Helikopter (Helicopter Parenting): Pengawasan berlebihan di mana orang tua mengatur seluruh keputusan dan selalu campur tangan dalam persoalan pribadi anak. Dampaknya, anak kehilangan kemandirian, rendah diri, dan takut mengambil risiko.

Ke empat; Pola Asuh Mengabaikan (Neglectful/Uninvolved): Orang tua bersikap cuek, tidak terlibat secara emosional maupun fisik, serta mengabaikan kebutuhan dasar anak. Akibatnya, anak merasa tidak dicintai, kehilangan arah, dan rentan mencari validasi berisiko di luar rumah.

Kelima; Ekspektasi Tidak Realistis & Membanding-bandingkan: Menuntut anak sempurna demi ambisi orang tua serta kerap membandingkan dengan sebaya. Hal ini memicu krisis identitas dan merendahkan harga diri anak (low self-esteem).

Mengatasi Krisis pada Remaja dan Solusi Rekonsiliasi
Luazizah juga memetakan berbagai permasalahan krusial yang kerap timbul pada fase remaja akibat kesalahan pengasuhan, mulai dari aspek kesehatan mental (depresi, kecemasan, hingga risiko self-harm), perilaku sosial & hukum (kenakalan remaja, tawuran, hingga pergaulan bebas), pola komunikasi yang tertutup, hingga penurunan prestasi akademik.

Sebagai solusi konkret, ia menawarkan langkah rekonsiliasi bagi orang tua melalui pergeseran ke pola asuh otoritatif (disiplin konsisten berpadu kehangatan), menjadi pendengar aktif tanpa menghakimi, berani meminta maaf atas kesalahan orang tua, memberikan ruang otonomi bertanggung jawab, serta tidak ragu mencari bantuan profesional jika menemui kebuntuan psikologis.

Penguatan materi tersebut diperkaya oleh Purwiningsih dari Puskesmas Pengasih II yang memberikan edukasi mendalam seputar kesehatan fisik dan reproduksi remaja, menegaskan bahwa kesehatan jiwa dan raga merupakan satu kesatuan mutlak dalam tumbuh kembang anak.

Komitmen KUA Pengasih dalam Ketahanan Keluarga
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H., S.H.I., M.S.I., saat ditemui secara terpisah, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan Pusaka Sakinah ini. Menurutnya, ketahanan bangsa bermula dari ketahanan keluarga, dan edukasi parenting berbasis agama serta kesehatan adalah kunci utama mencegah dekadensi moral maupun krisis mental pada anak.

“Program Pusaka Sakinah ini adalah ikhtiar nyata KUA Pengasih untuk membekali para kader dan orang tua agar lebih peka terhadap dinamika psikologis anak. Kesalahan pola asuh sering kali menjadi akar dari berbagai permasalahan remaja saat ini. Melalui pendampingan yang menyinergikan nilai agama dan kesehatan, kita berharap lahir keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta mampu mencetak generasi yang sehat jasmani, rohani, dan berakhlak mulia,” tegas Rangga.

Melalui kegiatan sinergis ini, para Kader Kalurahan Karangsari diharapkan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat dalam mengaplikasikan pola asuh yang humanis, solutif, dan penuh kasih sayang.(lua/mel)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *