Perkuat Literasi Fikih, Penyuluh KUA Sentolo Intensifkan Kajian Ibadah Praktis
Kulon Progo (KUA Sentolo) — Ilmu fikih memiliki peran penting sebagai pedoman umat Islam dalam menjalankan ibadah dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap fikih, khususnya bagi kalangan pekerja yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti pengajian secara intensif, penyuluh agama KUA Sentolo menyelenggarakan kajian fikih ibadah praktis di musala Kantor Kapanewon Sentolo pada Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan setiap dua pekan sekali pada Rabu pagi tersebut diikuti oleh 20 pegawai di lingkungan Kantor Kapanewon Sentolo. Kajian ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, khususnya dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari.

Sebelum kajian dimulai, kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an selama 30 menit yang dipimpin oleh Penyuluh Agama KUA Sentolo, Andri Kusmunanto. Sebelum tadarus, Andri memberikan motivasi mengenai pentingnya membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Selanjutnya, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan secara bertahap untuk diikuti oleh para peserta.
“Sayidina Ali bin Abi Thalib dalam sebuah atsar menyebutkan bahwa tartil adalah tajwidul huruf wa ma’rifatul wuquf, yang berarti membaguskan pelafalan huruf dan mengetahui tempat berhenti dalam bacaan,” ujar Andri.
Ia menekankan bahwa ilmu tajwid penting dipelajari karena membahas tata cara membaca Al-Qur’an, termasuk pelafalan huruf, sifat-sifat huruf, dan kaidah bacaan lainnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama KUA Sentolo, Muhammad Dzaqiyul Hikam, dalam kajiannya membahas amalan sunah sebelum melaksanakan salat, yaitu mengumandangkan azan dan ikamah. Ia menjelaskan bahwa azan dan ikamah merupakan bagian penting dalam pelaksanaan salat berjemaah.
Hikam juga menyampaikan tuntunan bagi umat Islam ketika mendengar azan. Pendengar dianjurkan menjawab kalimat azan dengan mengikuti lafal muazin, kecuali pada kalimat hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah, yang dijawab dengan la haula wa la quwwata illa billah.
“Bagi yang mendengarkan azan, disunahkan untuk menjawabnya sebagaimana diajarkan Rasulullah, yaitu dengan mengikuti kalimat muazin. Namun, ketika muazin mengucapkan hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah, jawabannya adalah la haula wa la quwwata illa billah,” ungkap Hikam.
Lebih lanjut, azan dan ikamah tidak hanya menjadi penanda masuknya waktu salat dan dimulainya pelaksanaan salat berjemaah, tetapi juga mengandung seruan untuk mengakui keesaan Allah Swt. dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Pemahaman mengenai keduanya diharapkan dapat memperkuat pengetahuan dan pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhir kegiatan, para peserta mengikuti sesi tanya jawab bersama pemateri. Beragam pertanyaan disampaikan oleh peserta dan ditanggapi secara interaktif sehingga suasana kajian berlangsung aktif dan komunikatif. (skd/mel)




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!