Peringati UU Keistimewaan DIY, MIN 2 Kulon Progo Gelar Upacara Berpakaian Adat Jawa

Kulon Progo (MIN2KP) – MIN 2 Kulon Progo menggelar upacara bendera dengan suasana berbeda pada Senin (31/8/2026). Di mana seluruh murid, guru, dan pegawai tampak kompak mengenakan pakaian tradisional Jawa Yogyakarta.

Meskipun sudah berada di penghujung bulan Agustus, semangat para murid dalam mengikuti upacara bendera mingguan ini sama sekali tidak surut. Nuansa budaya yang kental menyelimuti halaman madrasah sejak pagi hari.

Penggunaan pakaian adat ini dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran (SE) No. 000.8.3/3030 mengenai Penggunaan Pakaian Tradisional Jawa Yogyakarta Tahun 2026. Momen ini bertepatan dengan Senin Kliwon yang menjadi Peringatan pengesahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan jadwal edaran tersebut, seluruh warga madrasah diwajibkan untuk mengenakan busana tradisional Jawa.

Bertindak sebagai pembina upacara adalah guru Akidah Akhlak MIN 2 Kulon Progo, Umi Khoirul Bariyyah, S.Ag. Sebelum menyampaikan amanat inti, Umi Khoirul Bariyyah memberikan apresiasi yang tinggi kepada para petugas upacara dari kelas 5 yang sudah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik dan penuh tanggung jawab.

Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan madrasah dengan membuang sampah pada tempatnya serta memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Seperti sampah organik dan anorganik.

“Saya sangat bangga dengan para petugas upacara dari kelas 5 yang tampil percaya diri hari ini. Selain itu, saya mengingatkan kepada seluruh murid untuk selalu menjaga kebersihan. Tolong buang sampah pada tempatnya. Mulailah memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Mana yang organik dan mana yang plastik. Hal ini agar lingkungan madrasah kita tetap asri,” ujarnya.

Kepala MIN 2 Kulon Progo, Hartati, S.Pd.I., M.Pd., turut memberikan pernyataan mengenai keselarasan momen berpakaian adat dengan pembentukan karakter para murid di madrasah.

“Hari ini menjadi momen yang sangat istimewa. Karena kita merayakan Keistimewaan DIY. Sekaligus belajar menjaga lingkungan. Penggunaan pakaian tradisional ini menanamkan rasa cinta budaya pada diri murid. Sementara pesan kebersihan dari pembina upacara melatih kedisiplinan nyata mereka dalam menjaga bumi,” ungkapnya.

Upacara pun berlangsung dengan khidmat dan tertib, memadukan semangat nasionalisme, pelestarian budaya lokal Yogyakarta, serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekitar. (rin/abi).

#KementerianSemuaAgama
#MakinDigitalMenjangkauUmat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *