Implementasi Lima Pilar Keberhasilan Anak Belajar dari Rumah

Mencermati pandemi Covid-19 hingga saat ini, kita bisa memperkirakan bahwa sepertinya masih cukup panjang kita harus menjalani kegiatan pembelajaran di rumah (daring). Kondisi grafik perkembangan yang cukup siginifikan bertambahnya kasus tersebut dan masih sangat berisiko untuk bertemu dalam waktu yang lama apalagi di ruang tertutup.

Menurut informasi dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dalam surat imbauannya tertanggal 11 Juli 2020, yang menyatakan bahwa terdapat peluang penyebaran Covid-19 secara airbone terutama di ruang tertutup. Jika ini benar, maka kondisi akan bisa semakin memburuk dan tidak bersahabat lagi, terutama ketika protokol kesehatan dalam pencegahan tidak dipatuhi oleh semua warga.

Oleh karena itu, kita harus memperpanjang nafas kesabaran dan selalu istiqamah untuk belajar bersama  anak-anak di rumah (daring). Karena tidak bisa diprediksi sampai kapan suasana ini akan berlangsung. Mungkinkah ini musibah paling panjang yang pernah kita hadapi bersama? Sekarang kita fokus pada proses pembelajaran dari rumah yang harus dihadapi dan dikerjakan anak-anak  pada tahun ajaran baru ini. Ada  banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar anak di rumah.

Pertama: Kesiapan dalam Keluarga

Karena belajar dari rumah, maka kunci utama ada pada kesiapan di dalam keluarga. Semakin siap keluarga menghadapi pembelajaran dari rumah, semakin siap pula anak menjalaninya. Sebaliknya, semakin tidak siap keluarga, akan membuat anak juga tidak memiliki kesiapan, apalagi semangat belajar pasti akan hilang. Jadi, pihak keluarga mau tidak mau harus ikut menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan atau dibutuhkan anak.

Berikut beberapa poin kesiapan yang harus ada dalam keluarga, dalam rangka memberi rasa aman nyaman dan senang pada anak pada  masa pembelajaran dari rumah.

  1. Menguatkan Fondasi Keimanan Keluarga. Sebagai manusia yang taat beribadah, kita harus menguatkan iman dan taqwa pada semua anggota keluarga. Menghadapi Covid-19, jangan menganggap sederhana ataupun enteng (ringan). Semua harus bisa memberi makna positif, dalam koridor keimanan dan ketaqwaan agar pendemi Covid-19 tidak menggerus keimanan kita kepada sang Khaliq, kuatkan do’a dan usaha untuk segera musnah wabah ini.
  2. Menguatkan perasaan dalam satu keluarga. Dalam satu keluarga harus saling menguatkan kohesif dan kompak, jika diperlukan orang tua bisa menyusun pakta integritas. Semua anggota keluarga harus dikondisikan untuk ikut terlibat dalam memberikan lingkungan pembelajaran terbaik, sumber belajar yang baik, terutama bagi anak-anak balita sampai usia SD/MI bahkan anak sekolah lanjutan lainnya juga harus terkontrol. Lakukan pembagian peran yang semakin efektif, agar semua bisa berjalan dengan baik. Lakukan pula pendampingan proses belajar dari rumah dan juga si anak harus diberi kepercayaan.
  3. Mengembangkan hubungan positif antara orangtua dengan anak. Diskusikan pengalaman belajar anak dan tanyakan harapannya. Diskusikan permasalahan belajar yang dihadapi anak, apa yang dirasakannya? Apa kesulitannya?. Tidak hanya menyalahkan anak. Anak adalah gambaran orangtua saat kecil, jadi jangan hanya disalahkan jika berbuat tidak sesuai dengan aturan.

Kedua: Kesiapan Sekolah/Madrasah

Faktor kunci berikutnya adalah kesiapan sekolah/madrasah dalam memberikan pelayanan kepada murid dan orangtua. Semua pihak harus disiapkan, agar mampu melakukan fungsi dan peran secara optimal dalam proses belajar dari rumah.

  1. Guru harus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, disiplin dan juga harus wujudkan dedikasi serta kecintaan atas peran yang dijalankan di bidang pendidikan
  2. Sekolah harus mampu menciptakan sistem pelayanan baru, sehingga bisa menghadirkan suasana kondusif dalam suasana belajar mengajar jarak jauh. Sekolah/madrasah wajib memberikan kemudahan akses bagi murid dan orangtua untuk berkomunikasi serta berkonsultasi dengan pihak sekolah/madrasah.

Ketiga: Sinergi Rumah dan Sekolah/Madrasah

Jika keluarga di rumah sudah memiliki kesiapan, demikian pula sekolah sudah memiliki kesiapan, akan menghasilkan sinergi positif. Saling mendukung, saling menguatkan, dalam mengusahakan keberhasilan pembelajaran dari rumah.

  1. Rumah belajar harus memfasilitasi mekanisme komunikasi produktif antara pihak sekolah/madrasah dengan murid dan orangtua/wali murid. Miliki saluran pengaduan, serta kemudahan akses kepada orangtua, untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah.
  2. Orangtua harus aktif berkomunikasi dengan pihak sekolah terkait kebijakan belajar di rumah. Kesulitan dalam implementasi program belajar harus diselesaikan dengan bijaksana. Orangtua jangan hanya pasif menunggu undangan/perintah dari pihak sekolah/madrasah bahkan dianjurkan memberikan masukan-masukannya demi keberhasilan bersama.
  3. Berkolaborasi dalam menemukan solusi atas kesulitan yang dihadapi. Dipastikan pada hal yang menjadi kendala ada solusinya dan harus bisa ditemukan melalui mekanisme komunikasi yang efektif.

Keempat: Sinergi Antar Orangtua

Kunci berikutnya untuk membangun keberhasilan program belajar dari rumah adalah sinergi antara orangtua murid. Hendaknya sekolah memfasilitasi komunikasi antar orangtua murid, agar terjadi sinergi.

  1. Mendiskusikan pengalaman belajar anak dari rumah. Orangtua murid bisa sharing tentang pengalaman belajar anak dari rumah kepada guru. Berbagai suka duka proses pembelajaran anak di rumah bisa menjadi bahan diskusi. Jika ada succes dibuat story di medsos dari sebagian orangtua, akan menjadi inspirasi bagi orangtua lainnya.
  2. Saling mendukung dan memberikan masukan positif terhadap kesulitan yang dihadapi orang tua lain. Dengan kebersamaan dan saling mendukung, akan memberikan motivasi tersendiri.
  3. Saling meringankan beban khususnya bagi yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi. Dengan demikian, mekanisme saling peduli dan berbagi bisa terwujud dari sesama orangtua.

Kelima: Sinergi Orangtua dengan Masyarakat Sekitar

Hal yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dari masyarakat sekitarnya. Untuk itu, orangtua hendaknya terus membangun sinergi dengan masyarakat sekitar agar ikut terlibat menciptakan suasana yang kondusif selama masa pembelajaran di rumah.

  1. Penyamaan persepsi, sangat penting bagi masyarakat untuk saling menyamakan persepsi atas kondisi yang tengah terjadi saat ini. Wabah yang dihadapi, benar-benar harus disikapi oleh seluruh warga.
  2. Menciptakan komitmen yang kuat, Jam Belajar Masyarakat (JBM) harus diterapkan dan diaktifkan kembali, tidak hanya slogan yang tertulis di berbagai pojok jalan ataupun gang-gang. Ketika anak-anak belajar dari rumah, hendaknya masyarakat berkomitmen untuk menciptakan keamanan dan ketenangan lingkungan saat berlaku jam belajar masyarakat.
  3. Membentuk Satgas Belajar, masyarakat bisa membentuk satgas belajar, yang bertugas untuk melakukan patroli di lingkungan masyarakat. Memastikan anak-anak aman belajar di rumah, dan memiliki suasana lingkungan yang nyaman.

Mari bersama-sama melaksanakan 5 pilar di atas, demi masa depan dan menyelamatkan generasi Indonesia. Semoga bermanfaat.

Penulis : Kasmad Rifangi

Guru MI Ma’arif Sendang, Pengasih, Kulon Progo

3 replies
  1. Mas Tarwaca
    Mas Tarwaca says:

    Bagus, KBM masa pandemi, perlu melihat aspek yang selalu berkaitan dg pesdik.
    Infrastrukturnya juga harus disiapkan dengan baik, sehingga KBM itu, berlangsung dg baik.

    Balas

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *