Tepuk Gempa Warnai Simulasi Bencana di MIMUHGA

Kulon Progo (Mimuhga) – Riuh rendah keceriaan memenuhi aula MI Muhammadiyah Garongan (MIMUHGA) pada Senin (17/11/2025). Namun keceriaan itu bukan untuk permainan biasa. Melainkan untuk simulasi menyelamatkan diri dari ancaman gempa bumi. Kegiatan yang digelar oleh mahasiswa Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta ini berhasil menanamkan pengetahuan kebencanaan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dicerna.

Kepala Madrasah, Siti Nurhayati, S.Ag. M.S.I. sangat mengapresiasi program tersebut. “Terimakasih UNISA, karena kegiatan ini memberi manfaat sebagai implementasi pendidikan mitigasi bencana untuk guru dan murid. Melalui latihan simulasi memahami langkah-langkah krisis yang diperlukan, memungkinkan respons yang tenang dan tepat, serta meningkatkan keamanan madrasah secara keseluruhan,” ungkapnya.

Dosen Anestesiologi UNISA, Endah Tri Wulandari, S.Kep., Ns., M.N.Sc. bersama lima belas mahasiswa dari angkatan 2022 ini tidak hanya memberikan teori. Tetapi juga langkah-langkah praktis dan mudah diingat. Tiga jurus andalan  yakni Merunduk, Berlindung, dan Berpegangan diajarkan untuk dilakukan saat gempa mengguncang di dalam kelas.

Salah satu Narasumber, Chindy Novita menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan. “Saat gempa ingatlah, jangan lari, jangan dorong, dan jauhi jendela, serta lindungi kepala. Jika guncangan berhenti segera cari tempat terbuka yang aman dengan tetap melindungi kepala,” pesannya.

Ketua Program, M. Syohib Ladila menjelaskan bahwa simulasi ini merupakan bagian dari penerapan mata kuliah Manajemen Kebencanaan. “Kami ingin ilmu yang kami dapat di kampus bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat. Terutama anak-anak di madrasah,” ujar Syohib.

Agar tidak membosankan, materi disampaikan dengan metode kreatif. Seperti Tepuk Gempa yang disambut antusias oleh siswa. Beberapa siswa bahkan maju untuk mempraktikkan gerakan tepuk tersebut dengan semangat.

Tidak kalah seru, sesi kuis berhadiah alat tulis dan susu berhasil memacu semangat siswa untuk menjawab pertanyaan seputar gempa. Puncak acara adalah simulasi gempa bumi skala penuh. Saat alarm berbunyi, semua siswa dengan sigap merunduk, berlindung di bawah meja, dan berpegangan kuat pada kaki meja. Dengan tertib, mereka kemudian mengevakuasi diri ke halaman madrasah tanpa ada kepanikan.

Kegiatan ini pun meninggalkan kesan mendalam. Siswa kelas 4, Muhammad Syafwan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Aku senang sekali! Bisa menjawab pertanyaan dan dapat hadiah. Sekarang aku dapat ilmu baru. Jadi kalau benar-benar ada gempa, aku sudah tidak bingung lagi harus berbuat apa,” ceritanya.

Melalui pelatihan ini MIMUHGA dan UNISA Yogyakarta menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya siaga bencana sejak dini. Hal itu untuk membekali generasi muda dengan ilmu yang bisa menyelamatkan nyawa. (rat/sit/abi).

#KementerianSemuaAgama
#MakinDigitalMenjangkauUmat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *