Di Hadapan Sidratul Muntaha

Sugiyanta
Guru MAN 2 Kulon Progo
Manusia, yang rapuh oleh lupa dan lelah
Mengulang kalimat itu di setiap shalatnya,
Seolah berkata:
“Ya Rabb, aku lemah,
Namun aku ingin kembali kepada-Mu.”
Lalu terucap salam cinta dan hormat:
Assalāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu
Wa rahmatullāhi wa barakātuh—
Salam yang menghubungkan bumi
Dengan jejak langkah Rasulullah ﷺ,
Utusan yang membawa cahaya
Dari Sidratul Muntaha
Hingga relung hati manusia.
Dan ketika salam itu meluas:
Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish-shālihīn,
Kita diingatkan bahwa cinta kepada Allah
Tak pernah sendiri—
Ia tumbuh dalam barisan hamba-hamba saleh,
Dalam persaudaraan iman,
Dalam sujud yang saling menguatkan.
Salat pun bukan sekadar gerak dan bacaan,
Ia adalah perintah yang mengangkat insan lemah
Menjadi hamba yang berharap.
Di setiap rukuk dan sujud,
Kita belajar mencintai Allah
Dengan cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
Penuh ketundukan,
Penuh adab,
Penuh kesetiaan.
Karena mencintai Allah
Bukan hanya mengucap rindu,
Melainkan menapak jalan teladan Nabi—
Menjadikan salat sebagai mi’raj jiwa,
Tempat insan yang lemah
Berani berharap pada rahmat-Nya
Yang tak pernah bertepi.



Alhamdulillah sehat n sukses sll Ustadz GI hebat..
Alhamdulillah, bravo