Malam yang Menyatukan Bumi, Langit, dan Doa

Oleh: Kenzie Bhamakerti
Siswa MTsN 5 Kulon Progo

Di malam itu
Ketika dunia terlelap dalam lengkung sunyi,
Langit membuka pintunya
Seakan menyambut seorang kekasih terpilih.

Bumi menahan nafas,
Rembulan berhenti berkelana,
Para bintang tunduk
Kepada perjalanan suci yang ditulis Tuhan
Sejak awal segala mula.

Di atas punggung Buraq yang menyala cahaya,
Beliau melintasi jarak
Yang tak mungkin diukur oleh mata manusia,
Menembus batas yang tak dapat disentuh
Oleh ilmu, logika, atau sangka.

Masjidil Haram menjadi saksi,
Masjidil Aqsha menjadi pintu,
Dan tujuh lapis langit menjadi tangga
Yang diukir dari rahmat dan kemuliaan.

Di Sidratul Muntaha,
Ketika seluruh makhluk berhenti,
Hanya Nabi yang melangkah maju
Mendekat pada Cahaya
Yang tak bisa dijelaskan kata.

Langit dan bumi menyatu
Dalam satu perintah agung: salat.
Sebuah hadiah dari Tuhan
Yang turun bukan sekadar kewajiban,
Tapi obat bagi hati yang letih,
Penuntun bagi jiwa yang hilang,
Jalan pulang bagi rindu yang tak pernah selesai.

Malam itu bukan sekadar peristiwa,
Bukan sekadar sejarah,
Tetapi pesan abadi
Bahwa setiap sujud adalah mi’raj kecil bagi manusia,
Setiap doa adalah sayap
Yang membawa kita pulang
Kepada Dia yang Maha Mendengar.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *