MA Ma’arif Nurul Haromain, Ujian Praktik Bahasa Jawa Angkat Upacara Adat Nganten Jawa

Kulon Progo (MA Ma’arif Nuha) – Ujian praktik Bahasa Jawa kelas XII MA Ma’arif Nurul Haromain yang mengangkat tema upacara adat Nganten Jawa sebagai upaya merawat tradisi melalui pendidikan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal dilaksanakan di lingkungan madrasah pada Kamis (15/02/2026). Kegiatan pembelajaran berbasis praktik tersebut melibatkan siswa dalam memerankan prosesi adat secara langsung di bawah bimbingan guru Bahasa Jawa serta disaksikan seluruh guru dan staf sebagai bagian dari evaluasi keterampilan berbahasa, pemahaman budaya, dan pembentukan karakter, disampaikan Guru Bahasa Jawa MA Ma’arif Nurul Haromain, Nuning.
“Melalui ujian praktik ini siswa tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga belajar menghayati nilai-nilai budaya Jawa yang sarat makna dan etika,” katanya.
Ia menambahkan, pengangkatan tema Nganten Jawa diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah sekaligus meningkatkan keterampilan berbahasa Jawa siswa dalam konteks nyata, imbuhnya.

Sementara itu, kegiatan praktik menampilkan rangkaian prosesi adat secara runtut mulai dari persiapan dan penyambutan, prosesi panggih pengantin, balangan gantal, wijikan, hingga sungkeman kepada orang tua yang diperankan oleh siswa dengan mengenakan busana adat Jawa. Selain mempraktikkan dialog dan unggah-ungguh basa Jawa sesuai konteks peran, peserta juga menunjukkan tata gerak, sikap hormat, serta pemahaman makna simbolik setiap tahapan sebagai bagian dari penilaian keterampilan berbicara, ekspresi budaya, dan kerja sama tim. Kegiatan ini juga mendapatkan tanggapan positif dari Kepala MA Ma’arif Nurul Haromain yang menilai pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal mampu memperkuat karakter peserta didik.
“Pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal seperti ini sangat penting untuk menjaga identitas generasi muda sekaligus menanamkan kecintaan siswa terhadap tradisi bangsa. Kegiatan praktik semacam ini juga memberi ruang bagi peserta didik untuk belajar bekerja sama, menghargai nilai-nilai luhur, serta mengembangkan keterampilan komunikasi yang santun dan kontekstual, sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi akademik tetapi juga pada pembentukan karakter,” tuturnya. (rif/dpj)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!