Memburu Bayang di Ujung Jalan

Arfan Anindito
Siswa MTsN 6 Kulon Progo

​Malam Lailatulqadar sering dimaknai sebagai sebuah akhir. Sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di mana pintu langit terbuka lebar. Namun di balik kemuliaan yang dijanjikan, pasti ada sebuah keresahan yang kerap menghantui pikiran setiap mukmin. Yakni saat memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Sudahkah Ramadhan tahun ini dilalui dengan maksimal?

Pertanyaan ini bukan sekadar evaluasi atas jumlah juz yang telah dibaca. Atau deretan sedekah yang telah dikeluarkan. Melainkan sebuah gugatan tentang sejauh mana kehadiran hati kita dalam setiap ibadah yang dilakukan.

​Sering kali kita terjebak dalam perlombaan kuantitas yang melelahkan fisik. Namun gersang secara spiritual. Kita menghitung rakaat salat dengan cepat agar bisa mencapai target tertentu. Tanpa sempat menghayati dari setiap ayat yang dilantunkan. Padahal, esensi dari menjemput Lailatulqadar adalah tentang kualitas pertemuan antara hamba dan Sang Pencipta.

Maksimalnya sebuah ibadah tidak selalu diukur dari durasinya. Melainkan dari khusyuk dan rasa butuh yang mendalam kepada Allah. Sebuah sujud yang diiringi air mata penyesalan di keheningan malam bisa jadi jauh lebih berat timbangannya daripada seribu rakaat yang dilakukan tanpa nyawa.

​Kita juga perlu menyadari bahwa definisi maksimal bagi setiap orang berbeda. Bagi seorang ibu yang harus terjaga demi merawat bayinya, atau seorang pekerja yang membanting tulang hingga larut malam demi nafkah halal, ibadah mereka mungkin tidak berbentuk i’tikaf diam di masjid. Namun, kesabaran dalam menjalankan amanah dan keikhlasan dalam melayani sesama adalah bentuk ibadah sosial yang juga dicatat oleh malaikat yang turun di malam Qadar. Jangan sampai rasa bersalah karena keterbatasan fisik membuat kita berputus asa dari rahmat Allah. Karena Dia melihat niat yang tulus di balik keterbatasan hamba-Nya.

​Ramadan tahun ini mungkin tidak sempurna di mata kita. Mungkin ada hari-hari di mana kita lalai. Ada waktu di mana emosi masih meledak. Atau ada saat di mana tilawah kita terhenti karena kesibukan duniawi. Namun, Lailatulqadar diletakkan di ujung bulan justru sebagai kesempatan bagi mereka yang tertatih-tatih untuk menebus segala kekurangan tersebut.

Ini adalah babak final yang menentukan. Dalam sebuah perlombaan, kemenangan tidak ditentukan oleh bagaimana seseorang memulai lari. Melainkan bagaimana ia mengerahkan sisa energinya saat mendekati garis finis.

​Maka di sisa malam yang ada, berhentilah meratapi kegagalan di hari-hari awal. Fokuslah pada apa yang masih bisa kita perbaiki hari ini dan esok. Biarkan hati kita bicara lebih lantang daripada lisan dalam setiap doa. Jadikan malam-malam terakhir ini sebagai ajang rekonsiliasi total dengan Tuhan. Memohon agar setidaknya satu malam kita diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sebab pada akhirnya, Ramadan yang maksimal bukanlah tentang kesempurnaan tanpa cela. Melainkan tentang seorang hamba yang terus berusaha bangkit meski berkali-kali terjatuh.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *