Transformasi Layanan KUA Pengasih: Sentuh Keluarga Pra-Sejahtera Melalui Pendampingan Spiritual Rezeki Berkah

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Pengasih terus memperkuat perannya di tengah masyarakat melalui implementasi program Kemenag The Most KUA. Salah satu langkah konkret transformasi ini diwujudkan melalui program Pusaka Sakinah Maslahat yang menyasar penguatan mental dan spiritual Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH).

Bertempat di kediaman Ibu Supinah, Dusun Soropadan, Tawangsari, pada Kamis (12/03/2026), Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Muhammad Munawir, S.Ag., hadir memberikan pendampingan spiritual di tengah suasana khidmat bulan Ramadan. Dalam kegiatan tersebut, Munawir menekankan pentingnya konsep “Mencari Rezeki dengan Mengutamakan Keberkahan” sebagai fondasi ketahanan ekonomi keluarga.

Di hadapan para anggota PKH, Munawir menjelaskan bahwa indikator rezeki yang tidak berkah seringkali terlihat dari hidup yang tidak tentram, banyaknya musibah, hingga hubungan rumah tangga yang penuh pertikaian. “Agar rezeki membawa maslahat bagi keluarga, kita harus menjemputnya dengan cara yang halal. Sesibuk apa pun berikhtiar, jangan pernah meninggalkan ibadah, perbanyak sedekah, dan selalu bersyukur. Harta yang berkah adalah harta yang mendekatkan kita kepada Allah,” tegas Munawir.

Kegiatan ini turut didampingi oleh Ibu Emi Listiawati, S.Pd., selaku Pendamping PKH yang memastikan distribusi bantuan sosial berjalan tepat sasaran. Sinergi antara penyuluhan agama dan pendampingan sosial ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektoral yang diusung dalam program The Most KUA.

Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H, S.H.I, M.S.I, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi ini. Beliau menegaskan bahwa asupan spiritual adalah elemen kunci dalam penguatan ekonomi keluarga. “Kami sangat mendukung sinergi antara penyuluh dengan pendamping PKH. Melalui program Pusaka Sakinah Maslahat, kami ingin memastikan bahwa ketahanan ekonomi warga di Soropadan dibarengi dengan ketahanan mental dan spiritual. Dengan memahami hakikat kepemilikan secara agama, keluarga-keluarga kita diharapkan tidak hanya kuat secara finansial, tetapi juga memiliki jiwa yang tenang dan ridha terhadap ketetapan Allah,” ujar Yusma.

Kegiatan pendampingan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang hangat, di mana para peserta tampak antusias berkonsultasi mengenai problematika kehidupan sehari-hari dari sudut pandang keagamaan.(lua/dpj)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *