Darah dan Bangkit 20 Mei

Meisya Silviana Sari
Siswa MTsN 5 Kulon Progo

Di bawah langit yang pernah bisu,
Ada denyut yang menolak runtuh,
Darah muda mengalir jadi kata,
“Indonesia, waktunya bangun!”

Dua puluh Mei bukan sekadar tanggal,
Ia luka yang berubah jadi bara,
Boedi Oetomo menanam harapan,
Di tanah yang lama terbelenggu dera.

Tak ada meriam, tak ada bedil,
Yang ada hanya pena dan hati,
Menyatukan suku, bahasa, mimpi,
Menjadi satu nama: Indonesia.

Kini darah itu mengalir di nadi kita,
Bukan untuk berperang, tapi membangun,
Bangkit bukan hanya di masa lalu,
Tapi setiap kali kita menolak diam.

Selamat bangkit, negeriku,
20 Mei jadi sumpah yang tak mati,
Selama nyala itu masih menyala,
Indonesia takkan pernah mati.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *