Hidup Diselipi Kata “When Ya”
Oleh: Ridho Putra
Siswa MTsN 6 Kulon Progo
Setiap orang punya skenarionya masing-masing,
yang ia pilih untuk masa depannya yang indah.
Ada yang menghayal itu berjalan dengan indah,
seindah bunga mawar yang mekar di taman.
Tapi di sisi itu ada yang tidak sesuai ekspektasi kita,
karena perilaku kita sendiri atau karena bukan takdir kita.
Yang seharusnya berjalan indah malah sebaliknya,
berjalan buruk penuh kesedihan dan keputusasaan,
ibarat tali pengikat benda yang mengendur karena angin.
Rasa _insecure_ kadang meronta-ronta,
seperti petir yang bergoyang di atas langit,
karena orang lain bisa berhasil tetapi kita tidak.
Hati kecil berkata, “When ya, aku jadi kayak itu?”
Lontaran kata yang selalu melekat,
seakan kenapa kita tidak bisa ditakdirkan seperti dia.
Apakah karena masih tidak pantas,
ataukah karena skenario Allah ke depannya yang lebih indah?
Aku tidak menyalahkan siapa pun.
Aku akan berjanji kepada diriku,
jika aku pasti bisa seperti dia, entah itu kapan,
tapi aku optimis dan percaya diri.
Ya Allah, yakinkan hamba-Mu ini.
Aku akan selalu berusaha dan berdoa kepada-Mu.
Aku akan capai skenario yang menurutku “When ya” itu.
Aku percaya aku akan berhasil.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!