Hikayat Darah dan Doa

Anindita Keisha Az-Zahra
Siswa MTsN 5 Kulon Progo

​Di lengkung langit yang melipur lara,
Gema takbir lahir dari rahim-rahim menara.
Ia bukan sekadar bunyi yang mengetuk sepi,
Melainkan undangan untuk menziarahi hati sendiri.

​Ada sebilah tajam yang sedang menguji,
Bukan untuk melukai, tapi membebaskan diri.
Seperti Ibrahim yang mengorbankan separuh nyawa,
Kita diajak meraba: apa yang paling kita cinta di dunia?

​Jika itu adalah tahta, sembelihlah kuasamu.
Jika itu adalah harta, runtuhkanlah kikirmu.
Sebab di hadapan altar kepatuhan yang suci,
Tumpukan daging tak akan pernah sampai ke langit tertinggi.

​Hari ini, bumi meminum darah kepasrahan,
Sementara langit mencatat ketulusan yang tak terucapkan.
Ketika asap tungku mengepul di rumah-rumah yang sunyi,
Di sanalah Iduladha menjelma menjadi sepotong nikmat yang membumi.​

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *