Mimpi yang Tumbuh di Bangku Sekolah

Aulya Nur Fatonah
Siswa MTsN 2 Kulon Progo
Di bangku kayu yang mulai usang,
Aku duduk bersama waktu yang berjalan pelan tanpa henti…,
Menggenggam pena seperti menggenggam harapan,
Menulis masa depan di atas lembar yang sederhana.
Di sinilah segalanya bermula
Bukan dari gemerlap atau tepuk tangan dunia,
Melainkan dari suara kapur yang berderit di papan,
Dari angka-angka yang menari,
Dan huruf-huruf yang perlahan membentuk makna.
Setiap pagi adalah janji yang diulang,
Bahwa aku datang bukan sekadar hadir,
Tetapi untuk menjemput mimpi yang sempat tertunda,
Untuk mempercayai bahwa langkah kecil hari ini
Adalah pijakan besar di esok hari.
Di antara tawa teman dan canda yang sederhana,
Aku belajar arti kebersamaan,
Bahwa perjalanan ini tak selalu tentang siapa tercepat,
Tetapi siapa yang tetap berjalan
Meski lelah sering kali datang lebih awal.
Kadang mataku redup oleh kantuk,
Kadang hatiku goyah oleh ragu,
Ketika pelajaran terasa sulit dimengerti,
Dan dunia seakan terlalu luas untuk kugapai.
Namun dari situlah aku mengerti
Bahwa perjuangan bukan tentang mudah atau tidak,
Melainkan tentang bertahan dan terus mencoba.
Guru berdiri sebagai pelita,
Menerangi jalan yang belum kupahami,
Dengan sabar menanamkan makna,
Bahwa ilmu bukan hanya untuk dihafal,
Melainkan untuk dihidupkan dalam langkah dan sikap.
Di papan tulis, aku melihat lebih dari sekadar pelajaran,
Aku melihat kemungkinan yang tak terbatas,
Tentang siapa aku nanti,
Tentang sejauh apa aku bisa melangkah,
Jika aku berani percaya dan terus belajar.
Buku-buku yang kubuka bukan sekadar lembaran,
Melainkan jendela menuju dunia yang luas,
Mengajarkanku bahwa mimpi tidak lahir begitu saja,
Ia tumbuh dari usaha yang tak kenal lelah,
Dari kesabaran yang terus diuji waktu.
Aku belajar bahwa gagal bukanlah akhir,
Ia hanya cara semesta mengajarkanku kuat,
Bahwa jatuh bukan berarti kalah,
Selama aku masih mampu bangkit dan melangkah.
Dan suatu saat nanti,
Ketika aku melihat kebelakang,
Aku akan tersenyum dan berkata:
Di tempat inilah semuanya dimulai,
Dari bangku sekolah yang diam,
Namun menjadi saksi
Lahirnya mimpi yang tak pernah padam”.
Maka biarlah aku terus melangkah,
Meski jalan terasa panjang dan tak selalu terang,
Karena aku tahu,
Di setiap huruf yang kupahami hari ini,
Ada masa depan yang sedang kubangun perlahan.
Dan di dalam diriku,
Mimpi itu masih tumbuh—
Tak tergesa,
Namun pasti,
Menjadi cahaya yang akan menuntunku
Hingga aku benar-benar sampai.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!