Cegah Bullying dan Jaga Kesucian, Sikap Baik KUA Pengasih Perkuat Karakter Anak

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Usai menggelar kegiatan di pagi hari, program SiKAP BAIK (Sinergi KUA dan PKH, Berdaya Agamis dan Inklusif) kembali melanjutkan aksi nyatanya di lapangan. Pada Selasa siang (9/6/2026), giliran Kelompok PKH RT 013 Kalinongko, Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih, yang mendapatkan pembekalan intensif mengenai pencegahan perundungan (bullying) dan penguatan spiritual.

Kegiatan yang berlangsung di kediaman Ibu Semi ini dimulai pukul 13.00 WIB. Pertemuan ini memadukan edukasi sosial mengenai pola asuh anak dengan bimbingan keagamaan guna mewujudkan tatanan keluarga yang harmonis dan religius.

Dalam sesi pembuka, Pendamping PKH, Eny Puri Rahayu, memaparkan materi krusial mengenai urgensi pencegahan bullying atau perundungan di lingkungan sekolah. Menurutnya, memutus mata rantai perundungan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pihak sekolah, orang tua, dan siswa itu sendiri. “Langkah utamanya meliputi penanaman nilai empati sejak dari rumah, pembuatan aturan tegas yang konsisten di sekolah, pengawasan pada area-area rawan, serta pembukaan akses pelaporan yang aman dan mudah bagi anak yang menjadi korban,” terang Eny di hadapan para ibu penerima manfaat.

Melengkapi materi sosial tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Muhammad Musodiqin, S.Sos, hadir memberikan sentuhan spiritual melalui materi “Keutamaan Menjaga Wudhu”. Dalam bimbingannya, Musodiqin mengutip sebuah hadis sahih riwayat Imam Ahmad,yang artinya “Sesungguhnya umatku pada hari Kiamat adalah al-ghurr dan al-muhajjalun karena bekas wudhu. Siapa saja yang mampu memanjangkan ghurr-nya maka lakukanlah.” (HR. Ahmad).

Musodiqin menjelaskan bahwa al-ghurr dan al-muhajjalun adalah pancaran cahaya putih yang menyala pada wajah, tangan, dan kaki umat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak akibat bekas basuhan wudhu selama di dunia.
“Menjaga wudhu bukan hanya bersuci menjelang salat, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk menjaga diri dari perbuatan tercela. Anak-anak yang dibiasakan menjaga wudhu dan dekat dengan kesucian, hatinya akan lembut sehingga terhindar dari perilaku kasar seperti bullying atau menyakiti temannya,” urai Musodiqin.

Pertemuan kelompok ini berlangsung tertib dan penuh antusiasme, ditutup dengan sesi dialog interaktif antara warga dengan para fasilitator lapangan.(lua/mel)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *