Membaca Jangkar di Dada Rumah

Putri Hana Khalilah
Siswa MTsN 5 Kulon Progo
Kita adalah semen dan pasir yang digilas waktu,
Berdiri di atas tanah yang menolak untuk runtuh.
Di bawah atap ini, rapuh kita dirayakan,
Namun lima pilar itu egois berdiri, menolak digoyahkan.
Ketukan drum berderap, seperti detak yang pertama,
Saat para pendahulu meramu mantra di atas meja.
Bukan sekadar aksara yang dipahat di atas batu,
Tapi kompromi paling megah, agar kau dan aku menjadi satu.
Sila pertama adalah langit tempat kita memaki sekaligus bersujud,
Sila kedua adalah tangan yang menggapai saat tubuhmu lunglai tak berwujud.
Lalu kita berkumpul, di sela riuh gitar yang menderu,
Merajut utas yang sempat terlepas, di bawah beringin yang teduh.
Ada kalanya kita bertengkar di ruang tamu yang lapang ini,
Saling tunjuk, saling asing, lupa pada bunyi tirani.
Namun kepala banteng itu mengingatkan tentang musyawarah yang intim,
Bahwa segelas kopi dan diskusi, jauh lebih abadi ketimbang musim yang ekstrem.
Hingga di ujung lagu, saat semua distorsi mereda,
Keadilan sosial adalah upah yang harus genap diterima.
Bukan cuma untuk yang bersuara lantang di barisan depan,
Tapi untuk mereka yang sunyi, yang bertaruh nasib di masa depan.
Pancasila adalah album yang belum selesai kita nyanyikan,
Liriknya ditulis dengan darah, nadanya adalah persatuan.
Hari ini kita rayakan lagi fondasi yang tak boleh rapuh,
Sebab di dalam lima sila ini, kita semua punya jalan untuk pulang dan sembuh.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!