Perteguh Iman dan Jaga Kamtibmas, Aparat se-Kapanewon Pengasih Gelar Pengajian Rutin

Kulon Progo (KUA Pengasih) – Pemerintah Kalurahan Karangsari menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan rutin Pengajian Aparat tingkat Kapanewon Pengasih pada Jumat (29/5/2026). Selain menjadi sarana spiritual, forum ini juga efektif sebagai ruang koordinasi lintas sektoral demi menjaga kondusivitas wilayah.
Acara tersebut dihadiri oleh Panewu Pengasih Sunarya, MM., jajaran Forkompimkab, Lurah se-Kapanewon Pengasih, serta ASN di lingkungan Kapanewon Pengasih. Pada kesempatan ini, acara juga dirangkaikan dengan tahsin Al Qur’an yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Musodiqin, S.Sos. dan penyerahan santunan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulon Progo.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Koramil 11 Pengasih. Dalam penyampaiannya, perwakilan Koramil menegaskan bahwa pengajian ini memiliki esensi penting untuk mempertebal keimanan sekaligus menjalin tali silaturahmi yang kuat antar-instansi, sehingga bermuara pada peningkatan etos kerja yang lebih baik.
Selain memberikan apresiasi atas konsistensi kegiatan ini, pihak Koramil 11 Pengasih juga menitipkan pesan penting terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Kami memohon bantuan kepada seluruh aparat dan pamong untuk selalu menjaga lingkungan dengan baik. Jika melihat atau mendapati hal-hal yang melanggar hukum seperti indikasi kenakalan remaja (klitih), aksi penipuan, maupun tindak kriminal lainnya agar segera laporkan kepada pihak berwajib agar bisa diantisipasi sejak dini,” tegas perwakilan Koramil 11 Pengasih.

Memasuki acara inti, Ustaz Damiri, M.Ag. menyampaikan tausiyah mendalam mengenai hikmah Idul Kurban. Beliau membedah ibadah kurban dari berbagai aspek, mulai dari sejarah, syarat sah, hingga dimensi sosialnya:
Damiri menjelaskan bahwa syariat kurban sudah ada sejak zaman putra Nabi Adam AS, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 27. Dikisahkan bahwa Habil menyerahkan qurban berupa hewan ternak terbaiknya sehingga diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya, Qobil berqurban dengan hasil tani yang buruk (bukan yang bagus), sehingga qurbannya ditolak. Penolakan ini memicu rasa iri hingga Qobil membunuh Habil.
Dalam hal fikih, Damiri mengingatkan aparat agar jeli memperhatikan kondisi fisik hewan kurban. Ada 4 hal yang membuat hewan tidak diterima oleh Allah SWT: Hewan yang matanya tuna netra (buta), hewan yang pincang, hewan yang sakit nyata dan hewan yang sangat kurus atau terlalu tua hingga tidak memiliki sumsum tulang.
Lebih lanjut, kurban disebut sebagai sarana menjaga syariat dan wujud syukur atas nikmat harta serta ditundukkannya hewan ternak untuk manusia. Kurban juga merupakan ibadah sosial yang nyata, di mana jatah pengurban hanya sepertiga, sedangkan dua pertiganya disedekahkan kepada orang lain. Selain itu, kurban juga bisa menjadi sarana berbaktinya anak kepada orang tua (merujuk dalil Shahih Muslim Bab Zakat dan Wasiat).
Di akhir tausiyahnya, Ustaz Damiri memberikan pengingat keras bahwa harta benda yang ditumpuk dan tidak pernah digunakan untuk berkurban (bagi yang mampu), maka di akhirat nanti harta tersebut akan dipanaskan di neraka jahanam lalu dikalungkan, bahkan ditempelkan di dahi serta punggung orang-orang yang pelit tersebut.
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, memberikan apresiasi mendalam atas sinergi materi yang disampaikan dalam pengajian tersebut. “Kami sangat mendukung keberlanjutan pengajian aparat ini. ASN dan pamong kalurahan adalah pelayan publik yang setiap hari menghadapi dinamika lapangan. Melalui pengajian seperti ini, terjadi recharging keimanan. Ketika iman, taqwa, dan pemahaman agama seperti yang disampaikan Ustaz Damiri tadi menjadi fondasi kerja, maka integritas, keikhlasan, dan transparansi dalam melayani masyarakat Kapanewon Pengasih akan tetap terjaga dengan baik,” pungkas Rangga.(lua/mel)



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!