Cegah Masalah Remaja Sejak Dini, KUA Pengasih Bersama Puskesmas 2 dan PLKB Edukasi Kader KB se-Tawangsari

Kulon Progo (KUA Pengasih)— Penanganan masalah remaja dan ketahanan keluarga memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari kesehatan reproduksi hingga pola asuh orang tua (parenting). Berangkat dari kesadaran tersebut, KUA Pengasih berkolaborasi dengan Puskesmas Pengasih 2 dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) menggelar kegiatan edukasi terpadu bersama Kader KB se-Kalurahan Tawangsari pada Kamis (24/9/2026).

Dalam penanganan kesehatan masyarakat, Kunti Solihatin, A.Md.Keb., dari Puskesmas Pengasih 2 memimpin sesi pemeriksaan data dan pemantauan (monitoring) tumbuh kembang balita, kesehatan ibu hamil, serta ibu menyusui. Langkah ini krusial untuk memastikan kesehatan ibu dan anak di wilayah Tawangsari terantipasi dengan baik sejak dini.

Sementara itu, dari pihak PLKB, Sumiati, S.E., menyampaikan sosialisasi penyesuaian kontrasepsi bagi para akseptor. Ia juga menginformasikan momentum memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia yang akan dilaksanakan di TPMB Suwarti.

“Dalam rangka Hari Kontrasepsi Sedunia, besok siang digelar pelayanan KB implan baik pasang baru, ganti cara, maupun bongkar pasang secara gratis di TPMB Suwarti. Peserta akan mendapatkan uang transport sebesar Rp50.000, begitu pula kader yang mendampingi dan mengantar juga mendapatkan uang transport serta konsumsi,” terang Sumiati.

Guna melengkapi aspek kesehatan fisik dan reproduksi tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Muhammad Munawir, S.Ag., memberikan pembekalan mendalam terkait ketahanan keluarga dengan tema “Kesalahan Parenting Pola Asuh Anak Menjadi Sumber Masalah pada Remaja”.

Dalam paparannya, Muhammad Munawir mengurai empat kekeliruan utama pola asuh orang tua yang berpotensi memicu kerentanan pada remaja: Pertama; Ketidakharmonisan Orang Tua: Tekanan batin akibat disharmoni keluarga membuat anak tidak betah di rumah, benci orang tua, memicu penyimpangan orientasi seksual, hingga memicu trauma untuk menikah di masa depan.

Kedua; Minimnya Peran Orang Tua sebagai Sahabat: Ketika orang tua tidak bisa menjadi tempat curhat yang terpercaya dan solutif, anak perempuan rentan menjadi korban manipulasi laki-laki tidak bertanggung jawab. Sedangkan anak laki-laki rentan terjerumus dalam pergaulan rusak, aksi klithih, hingga penyalahgunaan narkoba.

Ketiga; Kurangnya Empati Orang Tua: Kurangnya pemahaman orang tua terhadap tingkat kelelahan fisik dan mental/pikiran yang dialami anak. Keempat; Tuntutan Berlebih: Target dan ekspektasi orang tua yang terlalu membebani psikologis anak.

Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., menegaskan pentingnya sinergi antara posyandu, layanan KB, dan edukasi keagamaan dalam membangun keluarga berkualitas.
“Keluarga adalah benteng utama pencegahan kenakalan remaja. Melalui kolaborasi antara pemeriksaan kesehatan, program KB, dan edukasi parenting islami ini, kami berharap para kader KB se-Tawangsari dapat menjadi agen perubahan yang mampu merawat kesehatan fisik sekaligus membimbing kesehatan mental dan spiritual anak-anak kita,” pungkas Rangga.(lua/mel)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *