Dialog Lintas Iman, Siswa MAN 2 Kulon Progo Belajar Merawat Kerukunan dalam Keberagaman

Kulon Progo (MAN 2 Kulon Progo) – Lebih dari sekadar wawancara, perjumpaan daring antara siswa MAN 2 Kulon Progo dan Agustinus Irawan menjadi pengalaman belajar yang menghadirkan praktik nyata nilai-nilai moderasi beragama dan Bhinneka Tunggal Ika, Jumat (4/9/2026). Meskipun berbeda keyakinan, para siswa dan narasumber dapat berdialog secara terbuka, saling menghormati, serta bersama-sama belajar membangun kehidupan Indonesia yang damai dan harmonis.

Pertanyaan yang disampaikan para siswa cukup beragam dan mendalam. Mereka menggali pandangan narasumber mengenai ajaran utama agama Kristen dalam membangun hubungan antarsesama manusia dan menumbuhkan toleransi. Para siswa juga menanyakan harapan terhadap masa depan kerukunan dan moderasi beragama di Indonesia, pengalaman menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang suku, agama, dan bangsa yang beragam, hingga sejauh mana peran pemerintah dalam membangun toleransi di tengah masyarakat.
Kelompok siswa lainnya mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka menanyakan bagaimana sikap yang tepat ketika menghadapi perayaan hari besar agama lain, contoh perilaku yang tidak moderat di lingkungan masyarakat, pentingnya toleransi bagi kehidupan bangsa Indonesia, serta pesan bagi generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter baik dan mampu menghargai perbedaan.

Dialog semakin menarik ketika siswa menggali tantangan dalam membimbing masyarakat agar semakin taat beragama sekaligus tetap mampu hidup berdampingan secara harmonis. Mereka juga menanyakan strategi untuk menarik minat generasi muda agar semakin dekat dengan nilai-nilai agama serta bagaimana keyakinan agama dapat menjadi landasan dalam membangun hubungan yang baik antarpemeluk agama.

Pada sesi terakhir, siswa secara khusus menanyakan peran generasi muda dalam menjaga kerukunan. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa para siswa tidak hanya ingin mengetahui konsep moderasi beragama, tetapi juga mulai memikirkan posisi dan tanggung jawab mereka sebagai generasi penerus bangsa dalam merawat persatuan di tengah keberagaman.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Agustinus Irawan memberikan jawaban yang edukatif, terbuka, dan moderat. “Para siswa memandang keberagaman bukan sebagai alasan untuk saling menjauh, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar mengenal, memahami, menghargai, dan bekerja sama dengan sesama.”

Pada akhirnya, dialog tersebut bukan hanya menghadirkan pengetahuan baru, tetapi juga menanamkan sebuah kesadaran penting: perbedaan tidak harus menjadi sekat untuk hidup bersama. Perbedaan justru dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. (ast)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *