Sumpah yang Tak Pernah Usai

Chusnul Khotimah
Murid MTsN 2 Kulon Progo

Di balik nisan yang tak bernama,
Aku mendengar isak tanah yang lelah,
Darah kalian tidak kering di tanah ini,
Ia mengalir menjadi nadi kami.

Wahai pahlawan yang gugur sebelum sempat menjadi tua,
Kalian titipkan negeri bukan dengan istana,
Melainkan dengan luka di dada,
Dengan tangan yang masih menggenggam bendera yang koyak.

28 Oktober bukan sekadar tanggal di kalender,\
Ia adalah janji yang kalian bisikkan di antara desing peluru,
Satu tanah, satu bangsa, satu bahasa,
Kalian eja dengan napas terakhir.

Lihatlah kami kini,
Masihkah sumpah itu bergema?
Atau hanya menjadi upacara yang selesai sebelum puisi dibacakan?
Maafkan kami, yang terkadang lupa betapa mahalnya kata “Merdeka”.

Namun dengarlah,
Selama jantung pemuda masih berdetak,
Selama air mata ini jatuh karena cinta pada negeri,
Semangatmu tidak akan pernah padam.

Kami bukan pembela dengan bambu runcing,
Kami pembela dengan pena, dengan ilmu, dengan kejujuran,
Akan kami jaga sumpah itu,
Meski kami harus menangis,

Meski kami harus terluka,
Agar merah tetap berani,
Dan putih tetap suci.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *