MAN 2 Kulon Progo Bersama Pengawas Madrasah Gelar Sosialisasi KBC dan Kokurikuler 

Kulon Progo (MAN2KP) – MAN 2 Kulon Progo menggelar kegiatan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Capaian (KBC) dan Kokurikuler dengan menghadirkan Kalimah, S.Ag., MA., selaku Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kulon Progo.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, (14/1/2026) bertempat di Ruang Teater Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu (GPPT) Unit 2 MAN 2 Kulon Progo, Jalan Pahlawan Gotakan, Panjatan, dan diikuti oleh seluruh guru MAN 2 Kulon Progo.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala MAN 2 Kulon Progo, H. Riza Faozi, S.Ag., M.S.I., yang menekankan pentingnya penyamaan persepsi guru dalam memahami dan mengimplementasikan kebijakan kurikulum madrasah. Menurutnya, KBC dan kokurikuler merupakan bagian strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik secara utuh.

Dalam pemaparannya, Kalimah, S.Ag., MA., menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dikembangkan dan diterapkan di lingkungan Kementerian Agama merupakan pendekatan kurikulum yang menempatkan nilai kasih sayang, kemanusiaan, dan kepedulian sebagai fondasi utama pembelajaran di madrasah. Menurutnya, KBC tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan cinta kepada Allah SWT, sesama manusia, dan seluruh ciptaan-Nya.

Kalimah mengaitkan KBC dengan perspektif ekoteologi, yakni pemahaman teologis yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab keimanan. Dalam konteks KBC, cinta tidak hanya dimaknai sebagai relasi antarmanusia, tetapi juga sebagai sikap mencintai dan menjaga alam semesta sebagai amanah dari Allah SWT.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai KBC dapat diimplementasikan melalui pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran ekologis peserta didik. Guru didorong untuk mengintegrasikan ajaran Islam tentang khalifah fil ardh, larangan berbuat kerusakan di bumi, serta nilai rahmatan lilalamin ke dalam proses pembelajaran dan kegiatan kokurikuler. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep cinta secara normatif, tetapi mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan lingkungan madrasah, mengelola sampah, menghemat energi, dan merawat fasilitas bersama.

Menurut Kalimah, pendekatan KBC berbasis ekoteologi juga memperkuat peran madrasah sebagai ruang pembentukan karakter yang utuh. Peserta didik dibimbing untuk menyadari bahwa mencintai lingkungan adalah bagian dari akhlak mulia dan manifestasi keimanan, bukan sekadar program atau kegiatan sesaat.

“Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, madrasah menanamkan nilai bahwa iman, ilmu, dan kepedulian terhadap lingkungan harus berjalan seiring. Cinta kepada Allah dan sesama harus tercermin dalam sikap menjaga alam sebagai ciptaan-Nya,” ungkap Kalimah.

Ia berharap implementasi KBC di madrasah dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, spiritual, dan ekologis, sejalan dengan visi pendidikan Kementerian Agama dalam mewujudkan moderasi beragama dan keberlanjutan lingkungan.

Selain membahas KBC, Dalam kesempatan tersebut, Kalimah, S.Ag., MA., juga menegaskan bahwa kokurikuler dalam kurikulum madrasah saat ini berfungsi sebagai pengganti Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan lil ‘Alamin (P5RA). Kokurikuler dirancang sebagai wahana pembelajaran yang terintegrasi dengan intrakurikuler untuk memperkuat karakter, nilai keislaman, dan kompetensi peserta didik secara kontekstual.

Menurutnya, melalui kegiatan kokurikuler, nilai-nilai yang sebelumnya dikembangkan dalam P5RA tetap dilanjutkan dan diperdalam, namun dengan pendekatan yang lebih menyatu dalam proses pembelajaran madrasah. Kokurikuler tidak berdiri sebagai program terpisah, melainkan menjadi bagian strategis dalam penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menekankan nilai kasih sayang, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Kalimah menjelaskan bahwa kokurikuler memberikan ruang bagi guru untuk merancang kegiatan pembelajaran berbasis proyek, aksi nyata, dan pengalaman langsung yang menginternalisasikan nilai rahmatan lilalamin. Kegiatan tersebut dapat berupa proyek kepedulian lingkungan, penguatan moderasi beragama, pengabdian sosial, literasi keagamaan, hingga praktik kolaboratif lintas mata pelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.

Ia menambahkan bahwa melalui kokurikuler, peserta didik diarahkan tidak hanya memahami nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam secara konseptual, tetapi juga mampu menghidupkannya dalam perilaku sehari-hari di lingkungan madrasah dan masyarakat. Dengan demikian, tujuan pembelajaran madrasah tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang berakhlak mulia, toleran, peduli, dan bertanggung jawab. (gia/dpj)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *